Jangan Bermental Pasif, Berilah Kontibusi Aktif: Catatan dari Kajian Gus Baha

Table of Contents
fasih menilai, enggan mengemban

Hidup di dunia ini, kata Gus Baha dalam salah satu kajiannya, pilihannya sebenarnya hanya dua: memimpin atau dipimpin.

Selama ini kita sering diajari bahwa orang saleh itu yang menjauh dari kekuasaan, merendah, atau 'rendah hati' setiap kali ditawari peran. Kalau ada yang tampak ingin memimpin, kita buru-buru mencurigainya sebagai orang yang ambisius.

Fasih Menilai, Enggan Mengemban

Ada satu gambaran realita di sekitar kita. Orang pada umumnya hanya suka berkomentar, bahkan menjurus pada gremeng, menggerutu. Ia mengomentari kebijakan, mengeluhkan keputusan, dan merasa semua bisa dikerjakan lebih baik. Padahal ia sendiri tidak pernah mengambil peran/tanggung jawabnya.

Di warung kopi, di grup WhatsApp, di pertemuan-pertemuan informal setelah forum atau rapat. Kita fasih menilai, tetapi enggan mengemban.

Karena itu, menurut Gus Baha, umat Islam mestinya selaras dengan doa:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

Doa ini lahir dari hamba-hamba pilihan, dan isinya memohon kepemimpinan. Berarti keinginan untuk memimpin tidak otomatis tercela. Yang menentukan adalah untuk apa, dengan cara apa, dan sanggupkah kita bertanggung jawab atasnya.

Harta dan Kuasa Lebih Aman di Tangan Orang Saleh

Gus Baha juga menyinggung pandangan yang selaras dengan mazhab Syafi’i, mazhab yang dianut mayoritas masyarakat kita. Orang saleh tidak dilarang menyukai harta atau kekuasaan, asalkan diperoleh dengan cara yang benar dan dipertanggungjawabkan.

Alasannya sederhana. Harta dan kekuasaan itu pasti ada dan pasti dipegang seseorang. Kalau orang-orang baik menjauh darinya, bisa jadi ia berpindah ke tangan orang yang kurang amanah. Dari sudut pandang ini, menghindar dari tanggung jawab belum tentu kesalehan. Bisa jadi itu cara halus untuk membiarkan keadaan memburuk.

Maka sikap “ah, saya tidak pantas, biar orang lain saja” perlu kita cek lagi. Gus Baha menegaskan bahwa enggan memegang amanah, entah mengurus masjid, mengurus umat, atau memimpin sebuah kerja bersama, bukanlah tawaduk yang benar. Itu lari dari tanggung jawab yang dibungkus kerendahan hati.

Kepemimpinan Bukan Hanya untuk yang Punya Jabatan

Di titik ini kita teringat hadis yang sangat dikenal:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya

Hadis ini meruntuhkan anggapan bahwa memimpin itu urusan bupati, kepala dinas, atau ketua organisasi. Seorang ayah memimpin keluarganya. Seorang guru memimpin kelasnya. Seorang pegawai memimpin pekerjaannya sendiri. Bahkan setiap orang memimpin dirinya, yaitu waktu, lisan, dan pilihan-pilihannya.

Jadi pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “mau memimpin atau tidak?”, tetapi “sudahkah kita menunaikan wilayah kepemimpinan yang memang sudah diletakkan di pundak kita?”. Doa waj’alnā lil-muttaqīna imāmā pun terasa lebih membumi. Ia bukan hanya doa untuk kursi tinggi, melainkan doa agar apa pun peran kita, kita menjadi teladan bagi orang-orang yang mencoba bertakwa.

Jangan jadi bermental “pasif” (kampungan)

Bagian yang paling menohok adalah ketika Gus Baha mengaitkan semua ini dengan sebuah ayat dalam surah Al-Ahzab. Ayat itu menyebut orang-orang yang berada di pedalaman bersama kaum Badui, yas’alūna ‘an anbā’ikum, sambil bertanya-tanya tentang kabar kalian.

Dalam kajian itu, gambaran ini dipakai untuk mengkritik mental bedui, yaitu mental pasif. Orang seperti ini duduk di pinggir, tidak ikut menanggung beban, tetapi selalu penasaran dengan apa yang terjadi. “Bagaimana kabarnya? Sudah sampai mana? Siapa yang salah?”

Dalam bahasa kita sehari-hari, inilah mental penonton (baca: tukang komentar, "pengamat"). Pengamat yang rajin bertanya, rajin berkomentar, dan hobi bergosip, tetapi tangannya tidak pernah ikut andil.

Kita hidup di zaman yang memudahkan mental ini tumbuh. Kabar datang tanpa diminta, opini bisa dilemparkan dalam sekejap, dan seolah-olah kita sudah “ikut berperan” hanya karena menekan tombol suka atau membagikan unggahan. Padahal kehadiran yang sebenarnya diukur dari kontribusi nyata dalam tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara. Menjadi warga negara yang baik berarti hadir, bukan sekadar mengikuti kabar.

Struktural dan Kultural, Dua Sayap yang Perlu Seimbang

Gus Baha juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara peran struktural, yaitu pemerintahan dan kebijakan, dan peran kultural, yaitu tradisi keagamaan di tengah masyarakat seperti tahlilan dan pengajian.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang satu menata sistem, yang lain merawat jiwa dan kebersamaan. Orang yang berada di kursi kebijakan dan orang yang menghidupkan majelis di kampungnya sama-sama sedang memimpin, di wilayahnya masing-masing. Tatanan hidup beragama dan bernegara baru berjalan sempurna kalau keduanya terisi oleh orang-orang yang mau bertanggung jawab.

Pun seperti peran pemerintah, yang rapat membahas ketahanan pangan, atau menjaga keamanan dan ketentraman. Ini tak akan berhasil jika tak ada peran petani selaku 'penyangga pangan', termasuk warga masyarakat yang menjadi aktor utama keamanan dan ketertiban berjalan.

Penutup: Berani Mengemban

Kalau ada satu kalimat yang bisa kita bawa pulang dari kajian itu, mungkin begini: ambisi untuk memimpin boleh, asal berani menanggung. Yang berbahaya bukan keinginan untuk berperan, melainkan keinginan untuk berperan tanpa mau menanggung akibatnya, atau sebaliknya, menolak semua peran lalu menggerutu dari pinggir.

Mungkin sebelum kita kembali menanyakan “bagaimana kabarnya?” tentang urusan orang lain, ada baiknya bertanya lebih dulu kepada diri sendiri:

Wilayah apa yang sudah dipercayakan kepadaku, dan sudahkah aku hadir dan berperan di sana?

Tabik,


Tulisan ini terinspirasi dari kajian Gus Baha di kanal NU Online berjudul “Pandangan Gus Baha soal Ambisi Kekuasaan: Boleh, Asal Berani Tanggung Jawab!” (https://youtu.be/9BkCw1ObpvM). Isi kajian ditulis ulang dengan bahasa penulis, bukan kutipan langsung.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment