Ora Dadi Presiden Ora Patheken

Table of Contents
Ora dadi presiden ora pathe'en

Ada satu kalimat Cak Nun yang mungkin pernah kita dengar sepintas, lalu lupa lagi: "ora dadi presiden ora patheken." Kalau diterjemahkan kasar, artinya kira-kira, "tidak jadi presiden pun tidak akan kena cacar." Konon kalimat ini pernah disampaikan Cak Nun kepada Soeharto menjelang lengsernya — sebuah sindiran halus sekaligus penenang, khas gaya Cak Nun, tapi kalau kita renungkan pelan-pelan, ada kedalaman yang jarang kita sadari di baliknya.

Kita hidup di dunia yang mengukur banyak hal dari pencapaian. Jabatan, pangkat, gelar, posisi struktural — semuanya jadi semacam penanda: sudah sampai di mana kita. Dan karena penanda itu terlihat jelas, mudah sekali bagi kita menaruh identitas di sana. Kita jadi merasa "berhasil" kalau naik, dan merasa "gagal" kalau mentok. Nah, kalimat Cak Nun di atas semacam jadi pengingat — bahwa kekuasaan, jabatan, pangkat, semua itu bukan tempat menaruh harga diri kita.

Antara Karier dan Rizki

Ada satu titik dalam hidup ketika kita mulai bertanya: sebenarnya, apa yang sedang kita kejar?

Sering kita berpikir, risiko terbesar dari bekerja adalah kehilangan karier — takut mentok, takut tidak naik, takut kalah saing. Tapi di sisi lain, kita juga sadar satu hal yang lebih fundamental: tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang luput dari rizki-Nya. Setiap orang sudah punya jatah masing-masing. Bukan berarti kita berhenti berikhtiar, tapi ikhtiar itu tidak lagi kita jadikan alat tawar dengan Tuhan — seolah kalau kita berusaha lebih keras, jatah kita otomatis bertambah, atau kalau kita santai, jatah itu berkurang.

Pertanyaan semacam "kalau saya sekolah lagi, apakah nanti bisa naik pangkat?", "apakah aturan nanti masih sama seperti sekarang?", "kalau mentok di golongan tertentu, apakah itu berarti rizki saya terbatas?" — pertanyaan-pertanyaan ini wajar muncul. Tapi begitu kita telusuri lebih dalam, kita akan sampai pada satu kesadaran: pertanyaan itu hanya relevan kalau tujuan kita memang pangkat itu sendiri. Kalau tujuannya ilmu, kapasitas, atau manfaat yang bisa kita berikan — pertanyaan itu jadi tidak terlalu penting lagi.

Bukan untuk Dapat Apa, Bukan untuk Jadi Apa

Ini yang barangkali paling penting untuk kita renungkan: kita tidak sedang mengejar untuk dapat apa, atau untuk jadi apa.

Coba kita tanya balik ke diri sendiri — kalau pun kita mendapatkannya, mau kita apakan? Sehebat apa rasanya? Dan kalau kita jadi sesuatu — sebuah jabatan, sebuah gelar, sebuah pengakuan — mau dibanggakan seperti apa? Toh cepat atau lambat, semua itu akan lepas juga dari kita. Jabatan akan berpindah tangan. Gelar akan jadi huruf di kartu nama yang lama-lama tidak dilihat orang lagi. Bahkan nama kita sendiri, pada akhirnya, akan menjadi sekadar nama yang disebut sesekali oleh mereka yang mengenang.

Maka barangkali betul, hidup ini sesungguhnya sesederhana: bangun, salat, mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat, salat lagi, istirahat — lalu berulang esok hari. Bukan kesederhanaan yang minimalis atau pasrah tanpa arah, tapi kesederhanaan yang justru sudah selesai dengan pertanyaan besar tentang untuk apa kita hidup. Ketika hari-hari sudah diisi dengan konsisten seperti itu, urusan pangkat, gelar, atau pengakuan dari orang lain menjadi bonus — bukan syarat untuk merasa cukup.

*

Cak Nun mengucapkan kalimat itu sambil menyelipkan guyon. Tapi di balik guyon itu ada sikap batin yang tenang: bahwa jabatan setinggi apa pun, kalau tidak jadi milik kita, bukan berarti hidup kita rusak karenanya. Kita tetap boleh berikhtiar, bahkan boleh punya cita-cita setinggi apa pun. Hanya saja, hati kita jangan sampai tergadai di sana.

Ora dadi presiden ora patheken. Tidak jadi apa-apa pun, kita tetap baik-baik saja — selama yang kita kejar dari awal memang bukan "jadi apa", melainkan "berbuat apa".

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment