Mari Hadir dengan Mendengarkan, Bukan Sekadar Mendengar
Bab pertama buku Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi karya Desi Anwar (2019) dibuka dengan judul yang sederhana: Kemampuan Mendengarkan.
Ada sebuah kutipan menarik:
"Mendengarkan dengan sepenuh perhatian adalah anugerah yang kau tebarkan bagi orang-orang di sekitarmu."
Kalimat itu sangat menyentuh, dan sangat relate dengan saya.
Hear dan Listen, Sami'a dan Istama'a
Kebanyakan dari kita hanya bisa hear, sedikit yang mampu listen.
Dalam bahasa Arab, bedanya seperti sami'a (سَÙ…ِعَ) dan istama'a (اسْتَÙ…َعَ).
Sami'a adalah mendengar begitu saja, suara masuk ke telinga tanpa kita minta. Istama'a adalah mendengarkan, ada upaya dan kehadiran di dalamnya.
Kita sering berhenti di yang pertama, sukanya hanya mendengar, belum suka mendengarkan.
Yang Sering Kita Lewatkan
Gemericik air.
Deru mesin kendaraan.
Riuh ramainya pasar.
Suara azan.
Curhatan pasangan.
Ocehan jagoan kecil di rumah.
Semuanya kita dengar, tapi jarang kita dengarkan. Akibatnya, minim makna.
Yang Justru Kita Dengarkan
Kebisingan obsesi di dalam pikiran kita sendiri.
Omongan orang lain tentang kita.
Kekhawatiran akan kekurangan diri.
Ketakutan tertinggal info di dunia maya.
Buktinya, semua itu yang sering memengaruhi kita. Tak jarang telinga hadir, tapi pikiran entah ke mana.
Gusti Allah menciptakan "satu" mulut untuk bertutur, dan "dua" telinga untuk tak sekadar mendengar, tetapi juga mendengarkan.
Hadirkan Diri di Kehidupan Nyata
Tabik,
Terinspirasi dari bab pertama buku Going Offline: Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi karya Desi Anwar (2019).

Post a Comment