Tersambung, tapi Terpisah
Di sebuah warung kopi, dua sahabat duduk berhadapan. Kopi panas sudah tersaji, tapi keduanya menunduk, jempol bergerak di atas layar masing-masing. Sesekali salah satu tertawa, bukan karena ucapan lawan bicaranya, melainkan karena sesuatu yang dibaca dari orang lain di dunia maya.
Pemandangan seperti ini terlalu biasa untuk disebut ganjil. Mungkin lebih tepat kita menganggapnya wajar.
Sebuah bait dari Alfiyah
Di kalangan santri, ada bait Alfiyah Ibnu Malik yang akrab di bab dhamir (kata ganti):
وَفِي اخْتِيَارٍ لَا يَجِيءُ الْمُنْفَصِلْ # إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيءَ الْمُتَّصِلْ
Artinya kurang lebih: dalam keadaan pilihan (bukan terpaksa), kata ganti yang terpisah tidak dipakai selama yang tersambung masih bisa dipakai. Dikatakan akramtuka ("aku memuliakanmu", satu kata utuh), bukan akramtu iyyāka (dua kata terpisah). Yang terpisah baru boleh hadir kalau memang tidak ada jalan lain.
Itu dalam pembahasan nahwu. Tapi pada konteks lain, dimaknai: jika yang tersambung masih mungkin, mengapa memilih yang terpisah?
Membaca di luar gramatika
Bait ini adalah salah satu yang saya sukai. Muttashil dan munfashil tidak harus berhenti pada kata ganti. Ia bisa kita bawa ke hubungan antarmanusia: yang tersambung adalah hadir, bertatap, berbagi jeda dan nada suara. Yang terpisah adalah jarak, dalam hal ini jarak yang dibantu layar.
Kata kuncinya ikhtiyar, pilihan. Nahwu memberi kelonggaran bagi yang terpaksa. Ada kalanya kita memang harus lewat pesan singkat karena terpisah kota atau benua, dan itu tak salah. Yang patut kita tanyakan pada diri sendiri adalah keadaan ketika kita bisa muttashil, tapi tetap memilih munfashil.
Kata Shaw, kata Going Offline
Buku Going Offline membuka salah satu babnya, "Seni Bercakap-cakap", dengan kutipan George Bernard Shaw: ia telah kehilangan kemampuan bercakap-cakap, tetapi tidak kehilangan kemampuan bertutur.
Kalimat itu terasa pas untuk kita hari ini. Kita tidak kehilangan kemampuan bertutur. Malah kita sangat produktif: berkirim pesan, mengomentari, membalas, mengunggah. Yang menipis adalah bercakap-cakap, dengan reduplikasi yang menyiratkan bolak-balik. Ada yang berbicara, ada yang mendengar, lalu bertukar peran. Ada jeda yang canggung, tawa yang tak sempat diketik, dan tatapan yang menyampaikan apa yang tak bisa dituliskan.
Ketikan bisa dipoles, dihapus, ditunda. Percakapan tidak. Barangkali itulah sebabnya kita sering memilih yang pertama. Namun pastinya ada sesuatu yang kurang, seperti rasa, kesan, dan makna.
Ironi kata "terhubung"
Gawai disebut alat yang menghubungkan. Namun kalau kita jujur, ia sering bekerja sebaliknya: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Kita hafal kabar kenalan di seberang pulau, tapi lupa menanyakan kabar orang yang duduk semeja.
Dalam istilah nahwu, kita makin sering memilih munfashil padahal muttashil tersedia.
*
Tulisan ini bukan ajakan membuang ponsel. Ia hanya pengingat kecil: tiap kali yang tersambung masih mungkin, pilihlah ia. Taruh gawai di meja, angkat wajah, dan mulailah dengan pertanyaan sederhana yang tak bisa dijawab dengan emoji belaka.
Kopinya masih hangat, dan lawan bicara kita ada di depan mata.
Tabik,

Post a Comment