Hidup Itu Mencari Tenang, Bukan Menang

Table of Contents

 

Tenang bukan menang

Ada sebuah podcast SAY Inspiratif yang membahas tiga kecerdasan — IQ, EQ, dan SQ. Sederhana saja penjelasannya: IQ memberi kita pengetahuan, EQ memberi kita kendali atas perasaan, dan SQ memberi kita kebijaksanaan dalam sebuah tindakan.

Yang menarik bagi saya bukan teorinya. Tapi kesimpulannya:

Orang yang menguasai ketiganya tidak hidup untuk mencari menang. Ia hidup untuk mencari tenang.

"Menarik sekali," dalam hati saya.

Bukan karena kalimatnya baru. Tapi karena tiba-tiba saya seperti sedang membaca rangkuman kecil perjalanan hidup saya sendiri.

Saya tidak pernah benar-benar merancang hidup saya dengan presisi. Masuk madrasah aliyah sambil nyantri — karena melihat para santri itu hidupnya kok adem sekali. Kuliah di UGM — bukan pilihan utama, karena lebih berminat menunggu pengumuman dari UPI Bandung (yang ternyata hasilnya tidak diterima). Beasiswa bidikmisi — datang bukan di awal, tapi di pertengahan semester pertama, gelombang III, saat saya sudah mulai berjalan dengan biaya sendiri di permulaannya.

Setiap kali saya punya skenario, hidup menyodorkan versi lain. Dan versi lain itu — menurut kacamata saya — ternyata lebih baik.

Yang paling saya ingat adalah momen menjelang mendaftar CPNS.

Waktu itu saya sudah menikah. Istri sedang hamil anak pertama. Saya masih honorer di Dinas Pertanian Jepara. Ada pembukaan CPNS di Demak — luar kota, long distance dengan keluarga? Saya pun ragu.

Namun seminggu sebelum pendaftaran ditutup, saya bertemu kepala dinas. Beliau bilang, ringan saja:

"Daftarlah, kesempatan tidak datang dua kali."

Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti cahaya harapan yang menyinari ruang keraguan yang gelap. Tanpa pikir panjang, saya akhirnya mendaftar.

Tes SKD saya kerjakan tanpa beban berat. Tanpa tekanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan yang mengejutkan — ternyata mudah.

Bukan karena soalnya berubah. Saya pikir sayalah yang berubah. Atau lebih tepatnya — saya tidak sedang mencoba menang. Saya hanya datang, mengerjakan, dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan.

Newton menemukan inspirasi saat berteduh di bawah pohon. Archimedes saat berendam. Bukan saat mereka sedang berjuang keras pada sebuah pembuktian.

Ketenangan bukan kekosongan. Ia bukannya diam, bukan pula menyerah pada keadaan.

Tenang adalah kondisi di mana pikiran cukup jernih untuk melihat, hati cukup lapang untuk menerima, dan tangan cukup siap untuk berbuat — tanpa diusik oleh ego kita sendiri.

*

Hidup saya penuh persimpangan yang saya rasa di luar perkiraan saya. Penuh up and down yang tidak selalu saya mengerti saat sedang mengalaminya.

Tapi satu hal yang pelan-pelan saya pelajari:

Setiap kali saya tidak terlalu keras pada skenario saya sendiri, di situlah 'sesuatu' yang lebih baik menghampiri.

Mungkin itu artinya tenang.

Bukan tidak ada masalah. Bukan berarti jalannya mulus.

Yang penting, jangan biarkan masalah datang memegang kendali. Kita yang memegangnya — dengan ringan saja. Selebihnya Allah Yang Kuasa menunjukkan jalan-Nya.

Hidup itu mencari tenang, bukan menang. Atas izin Tuhan, dengan ketenangan, akan datang kemenangan.

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment