Bukan Karena Sempurna, Tapi Karena Tahu Cara Menikmati Yang Ada

Table of Contents

mi telur dadar

Waktu kecil, hidup terasa mudah sekali.

Kelereng sebutir bisa bikin sore hari jadi petualangan. Mi goreng ditambah telur dadar rasanya enak tidak karuan. Dan tidur di pelukan ibu — meski di atas jok motor yang sempit sekalipun — sudah terasa sangat nyaman.

Lha sekarang? Bahagia mesti nunggu gaji naik. Makan enak mesti nunggu akhir pekan. Tidur nyenyak mesti nunggu semua urusan kelar.

Kapan selesainya, coba?

_________________

Tentu, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Anak kecil bahagia dengan kelereng memang karena dunianya selebar lapangan itu — belum ada tagihan, belum ada tenggat, belum ada tanggungan.

Tapi ada satu hal yang perlu kita curigai: apakah standar bahagia kita ini betul-betul pilihan kita, atau kita ambil begitu saja dari pengaruh sekitar?

Dari iklan yang bilang bahagia itu punya ini-itu. Dari obrolan tetangga yang membandingkan ini-itu. Dari media sosial yang memamerkan ini-itu.

Tanpa sadar, kita menumpuk syarat. Dan semakin banyak syarat, semakin jauh bahagia merapat.

_________________

Islam punya kata yang indah untuk ini: qana'ah — merasa cukup dengan apa yang ada, tanpa berhenti berusaha.

Bukan berarti pasrah tidak mau maju. Tapi seperti kata Imam Al-Ghazali:

Kekayaan yang sebenarnya bukanlah berlimpahnya harta, melainkan kekayaan jiwa.

Anak kecil itu, tanpa sadar, ahli dalam hal ini. Ia tidak butuh alasan besar untuk bahagia. Kelerang cukup. Mi goreng cukup. Pelukan ibu cukup.

Bukan karena hidupnya sempurna. Tapi karena ia menikmati yang ada di hadapannya.

_________________

Mungkin yang perlu kita latih bukan memperindah gaya hidup — tapi memperindah cara syukur.

Supaya nanti, saat kita sudah tua dan anak-anak kita sudah besar, kita bisa cerita:

"Dulu Bapak/Ibu juga pernah bahagia — bukan karena semua sempurna, tapi karena tahu cara menikmati yang ada."

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment