Saat Hamba Berdosa, Tuhan Justru Menganugerahi Nikmat Padanya (Catatan dari Nasaihul Ibad)
Ada satu kalimat pembuka saat saya membaca maqalah ke-27 Bab Ar-Ruba'i Kitab Nasaihul Ibad, yang langsung membuat saya tertegun kagum, betapa amat baiknya Tuhan:
إن العبد إذا أذنب من الله تعالى (أي أنعم) عليه
Sesungguhnya apabila seorang hamba adznaba (berdosa), Allah tetap an'ama (menganugerahkan nikmat) kepadanya.
Hubungan antara 'abd yang berdosa dengan Allah yang Maha Memberi Anugerah adalah hubungan yang penuh dengan keajaiban rahmat—melampaui naluri manusia pada umumnya.
Diriwayatkan dari Sa'ad bin Hilal r.a., ada empat nikmat yang tetap dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya yang bermaksiat.
1. Allah Tidak Menghalangi Rezeki
Sederhana: rezeki tidak mensyaratkan iman, tidak pula mesnyaratkan ketaatan. Bahkan pendosa hingga Firaun yang mengaku tuhan pun tetap memperoleh limpahan rezeki dari-Nya.
Rizki bukanlah indikator rida, melainkan bentuk kasih sayang-Nya yang tanpa pilih kasih, seperti sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih di dunia dan akhirat).
2. Allah Tidak Menghalangi Kesehatan
Meski seorang hamba berdosa, Allah tetap memberinya tubuh yang sehat. Tubuh yang berfungsi normal dari ujung rambut hingga kaki adalah cara Allah memberi hamba-Nya kesempatan untuk segera bertaubat.
Ya, kesehatan dan kesempatan adalah dua hal yang paling sering terlupa. Padahal, setiap hembusan napas yang masih diizinkan-Nya adalah tanda bahwa pintu kembali masih sangat lebar terbuka.
Betapa kasih sayang-Nya tetap mengalir, bahkan ketika kita sedang berpaling.
3. Allah Tidak Menampakkan Dosa
Allah adalah As-Sattar, Yang Maha Menutupi Aib. Dia tidak menampakkan dosa-dosa hamba-Nya di hadapan manusia.
Kehancuran justru datang manakala seorang hamba dengan bangga memamerkan dosanya sendiri (al-mujahirin), sehingga ia keluar dari perlindungan sifat As-Sattar.
4. Allah Tidak Menyegerakan Siksa
Allah tidak langsung menimpakan siksa. Dia menundanya, tetapi bukan berarti membiarkannya.
Di sinilah letak batas tipis yang harus kita waspadai: apakah penundaan itu adalah ruang untuk bertaubat, atau justru ia merupakan istidraj—jebakan nikmat yang justru menjauhkan kita dari-Nya?
*
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَذْنَبَ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى عَلَيْهِ بِأَرْبَعِ خِصَالٍ: لَا يَحْجُبُ عَنْهُ الرِّزْقَ وَلَا يَحْجُبُ عَنْهُ الصِّحَّةَ وَلَا يُظْهِرُ عَلَيْهِ الذَّنْبَ وَلَا يُعَاقِبُهُ عَاجِلًا
Keistimewaan Kita: Belajar dari Nabi Adam as.
Ada cermin menarik saat kita membandingkan diri dengan bapak manusia, Nabi Adam as. Diceritakan bahwa ada empat perbedaan besar yang sebenarnya adalah bentuk kemuliaan bagi kita, umat Nabi Muhammad saw:
Tempat Taubat: Nabi Adam harus menempuh perjalanan ke Makkah untuk bertaubat, sementara kita? Allah izinkan kita bersimpuh di mana saja, dan pintu-Nya selalu terbuka.
Pakaian yang Tetap Melekat: Saat berbuat dosa, pakaian Nabi Adam terlepas hingga beliau telanjang. Sedangkan kita, meski berlumur dosa, Allah tetap membiarkan pakaian kita melekat, menutup malu kita dengan sempurna.
Kebersamaan yang Tak Terputus: Nabi Adam dipisahkan dari istrinya sebagai konsekuensi, namun kita tidak langsung dipisahkan dari orang-orang tercinta saat terjatuh dalam khilaf.
Jaminan Surga: Nabi Adam dikeluarkan dari surga karena satu kesalahan. Sementara kita, yang berdosa di dunia, tetap dijanjikan kembali ke surga jika mau bersungguh-sungguh bertaubat.
*
Begitulah indahnya cara Allah membagi rahmat-Nya, bahkan kepada hamba-Nya yang berdosa. Semua adalah hak prerogatif-Nya yang berada jauh di luar kendali kita.
Namun yang pasti, tugas kita tetap satu: menjadi hamba-Nya, yang mematuhi ketetapan-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Wa Allah a'lam
.jpg.jpeg)
Post a Comment