Guru Kecilku Yang Tak Menyimpan Dendam

Table of Contents

 

anak kecil bermain di pagi hari
Foto oleh Rohit Dey di Unsplash

"Jangan mudah jadi pendendam, tirulah anak-anak."

Kalimat itu kini saya rasakan sendiri.

Tengah malam tadi, di saat kami terlelap, anak saya tiba-tiba terbangun. Sepertinya mimpi buruk. Singkat ceritanya, ia bilang ingin ke kamar mandi — tapi tidak mau bangun sendiri.

Saya, yang masih dilanda kantuk berat, gagal membendung emosi. Ia saya bawa ke kamar mandi dengan cara yang kasar. Ia pun menangis, sesenggukan.

Selepas itu, penyesalan datang lebih cepat dari kantuk yang tadi begitu menguasai. Saya memeluknya. Meminta maaf. Ia pun kembali tidur di pelukan ibunya.

*

Pagi ini ia bangun dengan ceria.

Mengajak saya bermain seperti hari-hari biasanya. Tawanya sama. Semangatnya sama. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa.

Saya menatapnya lama.

Di sana, dalam diri anak kecil itu, tersimpan sesuatu yang justru sulit dimiliki orang dewasa: kemampuan memaafkan tanpa syarat, melupakan tanpa beban, dan melanjutkan hari seolah kemarin tak pernah terlukai.

Saya ingin belajar darinya.

Bukan karena ia tidak merasakannya — ia menangis, ia sesenggukan. Tapi ia tidak menyimpannya. Tidak menggenggam luka itu hingga pagi tiba.

*

Toh, urusan hidup ini sejatinya hanya antara hamba dan Tuhannya.

Yang penting: sudah minta maaf. Sudah memeluk. Sudah berusaha memperbaiki.

Selebihnya — biarlah pagi yang mengurusnya.

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment