Kita, Makhluk yang Terbatas “Ruang & Waktu”

Table of Contents
makhluk yang terbatas ruang dan waktu

Beberapa hari ini saya sering melewati jalan itu. Jalan yang sama, pagi dan sore saya lalui saat berangkat dan pulang bekerja. Di tepi jalan, pohon-pohon berdiri seperti biasa—tumbuh, diterpa angin, di bawah matahari mereka bertahan.

Namun hari itu saya berhenti.

Ada satu pohon yang kering. Tanpa daun satu pun. Ranting-rantingnya menjulur ke langit seperti tangan kosong. Tidak rindang. Tidak teduh. Seolah kehilangan daya tariknya.

Saya jepret.

Lalu terbesit satu kalimat dalam benak saya:

“Kita, makhluk yang terbatas ruang & waktu.”

Ya, tak hanya pohon itu, tetapi kita semua.

Ruang membatasi langkah kita.
Waktu membatasi usia kita.

Jabatan yang kita banggakan hari ini, suatu saat akan kita lepaskan.
Rumah yang kita tempati, kelak akan kita tinggalkan.
Harta yang kita kumpulkan, perlahan akan berpindah tangan.

Semua hanya singgah dalam ruang.
Semua hanya bertahan dalam waktu.

Kita pun semestinya sadar: keterbatasan itu bukan kelemahan. Ia adalah pengingat.

Bahwa ada Yang tidak dibatasi ruang.
Ada Yang tidak ditelan waktu.

Sangat berbeda dengan kita yang serba terbatas.

Tapi justru karena terbatas, kita belajar bersandar.
Justru karena dibatasi waktu, kita belajar menghargai detik.
Justru karena terikat ruang, kita belajar memaknai tempat kita berada.

Di antara ruang dan waktu yang sempit ini, semoga kita tidak lupa:
kita bukan penguasa.
Kita hanya makhluk milik Allah swt.
Tugas kita hanyalah beribadah dan mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment