Proses dan Tingkatan: Menyapa Diri di Tahun Baru

Table of Contents
matahari terbenam

Flashback Saat Ngaji Al-Hikam

Saya masih mengingat betul momen Ngaji Selapanan Kitab Al-Hikam yang diasuh oleh Mbah KH. Imron Jamil di Masjid An-Nur Bangsri, sekitar tahun 2011–2012. Kala itu, dengan bekal keawaman dan keberanian, saya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana dan mendasar:

“Beribadah lillāhi ta‘ālā itu seperti apa?”

Jawaban beliau singkat, namun masih terekam betul dalam ingatan:

“Ibadah lillāhi ta‘ālā itu butuh proses, dan ada tingkatan-tingkatannya.”

Kalimat itu, yang saat itu belum sepenuhnya saya pahami, justru membuka pintu perenungan panjang. Apalagi bagi saya yang ketika itu belum mengenal seluk-beluk ilmu hikmah, terlebih Kitab Al-Hikam.

Hari ini, kalimat tersebut saya amini sepenuh hati.

“Butuh proses dan ada tingkatan-tingkatannya” ternyata bukan hanya berlaku dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan secara luas.

Menjadi Cermin Yang Jujur

Saat menyaksikan beragam ekspresi dan tanggapan anak didik ketika mempelajari satu materi, saya kembali merasakan makna proses dan tingkatan itu. Demikian pula ketika kita sendiri tak mampu menuntaskan sebuah tugas, gagal dalam pekerjaan, atau belum sanggup menahan gejolak emosi—semuanya seakan menjadi cermin yang jujur: di mana posisi kita, di kelas mana kita sedang berada, dan sejauh mana kita benar-benar berproses.

Dalam momen Tahun Baru ini, rasanya kita memang perlu lebih sering menunduk dan bercermin. Menyadari posisi diri apa adanya. Bisa jadi, dalam satu aspek kita setara dengan rekan kerja kita, namun pada aspek lain kita berada di atas atau justru di bawah.

Refleksi Tahun Baru ini mengingatkan saya bahwa setiap orang sedang berproses, berada di tingkatan masing-masing, dan selalu punya ruang untuk menjadi lebih baik

Perbedaan itu bukan alasan untuk berpecah, melainkan ruang untuk saling melengkapi.

Pada akhirnya, menjadi penting bagi kita untuk terus membersihkan hati, menata ulang niat, serta menikmati pahit-manisnya kesementaraan dunia—sembari menggapai rida Allah SWT dan menjemput kebahagiaan akhirat yang kekal dan abadi.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah sarana saya bercerita, berwisata, sekaligus mengingat Kebesaran Sang Pencipta

Post a Comment