Refleksi Surah Quraisy Ayat 4 Tentang Lapar, Takut, dan Ketergantungan Kita kepada Allah
Ayat الذي أطعمهم من جوع وآمنهم من خوف sering terasa seperti ketukan lembut yang tak hanya mengajak saya membuka pikiran, tetapi juga mengetuk hati hingga dalam.
Setiap kali membacanya, muncul perasaan seperti sedang diingatkan kembali siapa diri saya sebenarnya: manusia yang tampak kuat dari luar, tetapi di dalamnya menyimpan dua kelemahan mendasar — rasa takut dan rasa lapar.
Jika kita menengok sedikit pada konteks pemaknaan Surat, ayat ini sebenarnya menyifati Rabba hadzal bait (Tuhan Pemilik Ka'bah), Yang kepada-Nya lah kaum Quraisy diperintahkan untuk menyembah.
Meskipun demikian, ayat ini terasa sangat dekat dengan diri kita sendiri, jika mampu menyelami dua sifat Allah yang sangat dalam maknanya.
Kesadaran akan Keterbatasan
Saat menjumpai ayat ini, saya seperti ditarik kembali pada beberapa momen dalam hidup:
ketika sedang dalam keterbatasan, saat ingin sesuatu tetapi belum kesampaian, ketika bingung mengambil keputusan, atau saat merasa takut terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Ada masa-masa tertentu di mana diri ini merasa sudah berusaha dengan baik—entah dalam pekerjaan, keluarga, maupun rencana hidup—namun rasa cemas masih sering kali muncul belakangan.
Di titik-titik seperti itulah ayat ini terasa sangat “menyapa”. Seakan Allah berkata, “Bukankah Aku yang mencukupimu? Bukankah Aku yang menenangkanmu?”
Ath'ama, Dia yang Memberi Makan
Raga kita punya hak untuk dicukupi. Dan menariknya, sekuat apapun kita mengejar rezeki, pasti tak akan bisa menandingi kedigdayaan Tuhan yang Maha Kuasa Merealisasi. Ada pintu yang dibukakan, ada jalan yang disingkapkan, ada orang-orang baik yang Dia hadirkan tanpa sebelumnya kita bayangkan.
Ada kalanya saya merasa, “Kalau dilihat dari usaha saya saja, mungkin hasilnya tidak akan seperti ini.”
Saat itulah kita mesti sadar bahwa kecukupan makan (baca: rezeki) bukan semata hasil kerja kita, melainkan bentuk kasih sayang Allah yang disalurkan lewat berbagai cara.
Āmana, Dia yang Memberi Rasa Aman
Kita semua punya rasa takut: takut gagal, takut kehilangan, takut tidak mampu, takut mengecewakan.
Namun, jika kita mau mengingat momen-momen kesulitan kita yang telah lalu, bahwa ketakutan yang paling berat pun bisa luluh saat kita merasa “dipeluk” oleh ketenangan yang datang dari Allah.
Ada malam-malam di mana kondisi kesehatan sedang kritis, tekanan-tekanan pada pekerjaan yang sudah di ujung waktu, hingga kecemasan yang menyudutkan kita, rasanya begitu sulit keadaan yang sedang kita hadapi.
Namun setelah meresapi sifat-Nya pada ayat ini, seperti terbisik suara pelan yang menenangkan:
“Tidak apa-apa. Aku lah Yang Menjaga.”
Terjaminnya makanan (rezeki) dan hadirnya rasa aman itu sejatinya tidak bisa kita kendalikan. Ia murni anugerah dari Tuhan.
Kekuatan yang Lahir dari Pengakuan akan Kelemahan
Dua kebutuhan dasar ini — kenyang untuk raga, ketenangan untuk jiwa — semestinya membuat kita sadar betapa rapuhnya diri kita. Meskipun demikian, dari kerentanan itu kita bisa menemukan kekuatan. Kita diingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Ayat ini mengajarkan kita untuk menurunkan ego, mengakui keterbatasan, dan kembali bersandar. Bukan dalam arti pasrah tanpa usaha, tetapi memahami bahwa hasil akhir selalu dalam genggaman yang lebih besar dari diri kita.
Pada akhirnya, ayat ini menghadirkan kesadaran yang sederhana namun syarat akan makna:
Kita lemah, tetapi kita dijaga oleh Tuhan yang Maha Kuat.
Kita takut, tetapi kita dipeluk oleh Tuhan yang Maha Memberi Keamanan.
Kita butuh makan, dan kita dicukupi oleh Tuhan yang Maha Memberi Rezeki.
Inilah refleksi sesungguhnya. Kita hanya bisa kuat dan mampu karena bergantung dan bersandar pada Allah swt.
Tabik,

Post a Comment