Tasbih Digital dan Bapak Tukang Parkir

Table of Contents
Cerita inspiratif

Tasbih digital, hand counter, atau apapun istilahnya, menjadi cerita yang terkenang oleh saya siang hari ini.

Saya sendiri memiliki satu buah tasbih digital, yang suka saya pakai ketika sedang dalam perjalanan. Namun ketika tidak saya gunakan, ia saya gantungkan pada centelan yang ada di area dasbor/leher sepeda motor yang biasa saya kendarai.

Ceritanya dimulai ketika saya selesai berbelanja di sebuah toko di Pertokoan Pecinan Jepara. Sesaat ketika saya sampai di sepeda motor yang saya parkirkan, bapak tukang parkir sudah menunggu di sana, lalu terjadilah percakapan di antara kami berdua.

"Tasbih kayak punya mas ini, belinya di mana ya mas?", tanya bapak tukang parkir menunjuk tasbih digital yang ada di motor saya.

"Itu saya dapet dari souvenir pernikahan temen pak," jawab saya dengan sedikit mringas-mringis. Padahal tasbih itu sebenarnya adalah lebihan souvenir dari pernikahan saya dan istri hampir setahun yang lalu.

"Wah, saya kira beli di daerah sini mas," si bapak menimpali jawaban saya. Sambil menyerahkan uang parkir, saya pun berpikiran bahwa bapak ini pingin sekali punya tasbih seperti itu, tapi mungkin tidak tahu di mana belinya.

Saya kemudian mengambilkan tasbih itu lalu memberikannya ke bapak tukang parkir yang masih berdiri di sebelah saya. "Ini buat bapak saja nggih, monggo dipakai pak," kata saya.

"Lho mas, nanti malah mas yang ndak punya.."

"Ndak pak, saya masih ada yang lain kok di rumah."

Si bapak pun menerimanya, sambil menanyakan bagaimana menghidupkan dan mereset angka tasbih digital tersebut.

"Terimakasih banyak ya mas, semoga manfaat, sehat-sehat terus mas."

"Sama-sama pak. Semoga manfaat juga ya pak."

~

Begitulah. Sepanjang perjalanan saat saya kembali ke kantor, saya masih terkenang-kenang peristiwa barusan. Tentang si bapak yang punya keinginan baik yang belum terwujud, dan bersyukur saya bisa membantunya meskipun 'hanya' berupa sebuah tasbih digital yang sudah tak lagi baru.

Kejadian itu sepertinya sesuai dengan satu maqalah As-Suhaili yang dikutip dalam kitab Syajaratul Ma'arif:

لَوْ صَحَّ مِنْكَ الْهَوَى أُرْشِدْتَ لِلْحِيَلِ

"Jika benar niatmu, jalan akan terbuka untukmu." (As-Suhaili)

لو صح منك الهوى أرشدت للحيل

Semoga benar niat si bapak dalam berkeinginan memiliki tasbih, perangkat zikir itu. Semoga bisa berguna menjadi pembuka jalan ibadah dan rizki beliau, dalam beribadah, bekerja dan mencari nafkah.

Dan ya, ada satu hal lagi, kalau beliau memberikan kembalian parkir kepada saya (seribu dari dua ribu rupiah yang saya berikan), meskipun tak jarang ada sebagian kawan seprofesi beliau lainnya yang tetap menerima nominal yang sama tanpa memberikan kembalian.

Panjang umur bapak, semoga berkah dalam bekerja dan mencari nafkah.

Tabik,

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah cara saya bercerita sekaligus berwisata

Post a Comment