Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Allah Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran dan Keagungan (11)

Al-Mutakabbir

Al-Mutakabbir sebagai sifat Allah tidak ditemukan dalam Al-Qur’an kecuali sekali, yakni dalam QS. Al-Hasyr ayat 23.

Kata ini terambil dari akar kata yang mengandung makna kebesaran serta lawan dari kekecilan.

Makna Al-Mutakabbir

Imam Al-ghazali berpendapat bahwa sifat Allah Al-Mutakabbir menjadikan selain-Nya hina dan rendah. Ia bagai pandangan seorang raja kepada hamba sahayanya, merasa bahwa keagungan dan kebesaran hanya miliknya.

Sifat ini tidak mungkin disandang kecuali oleh Allah swt, karena hanya Dia yang berhak dan wajar bersikap demikian.

Namun perlu kita catat, bahwa sifat kibriya’ ini ditujukan oleh-Nya kepada mereka yang bersifat sombong dan angkuh, yang memperlakukan oran lain hina dan rendah.

Kufi asmaul husna

Berakhlak dengan Al-Mutakabbir

Kita sebagai manusia menjadi sangat tercela apabila memiliki sifat takabbur. Betapa kita akan takabbur, padahal asal kita adalah nutfah yang menjijikkan, yang pada akhirnya menjadi bangkai yang menyebalkan, dan masa antara awal dan akhir hidup kita selalu membawa urin dan kotoran.

Apabila kita takabbur, berarti kita telah menggabungkan dalam diri kita kebodohan dan kebohongan, serta menciptakan keburukan di atas keburukan.

Namun demikian, kita dibenarkan bersikap takabbur hanya ada di satu tempat, yakni ketika berada di hadapan orang lain yang bertakabbur terlebih dahulu kepada kita. Hal ini dimaksudkan agar orang tersebut sadar diri dan tidak berlarut dalam keangkuhannya.

Itu pula sebabnya berjalan dengan angkuh saat peperangan, dibenarkan oleh Rasulullah saw.

Wa Allah a’lam.

Diringkas dan dikutip dari referensi:
Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab hlm. 70—73.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Allah Al-Mutakabbir, Yang Memiliki Kebesaran dan Keagungan (11)"

Berlangganan via Email