Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memuliakan Tamu, Tanda Iman dan Takwa Seorang Hamba pada Tuhannya

Adz-Dzariyat ayat 24

Memanusiakan manusia, atau menghormati orang lain, adalah salah satu bentuk ibadah (sosial) yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Meskipun agak terlihat sepele, tetapi ia termasuk amalan yang bernilai takwa, karena orang yang memuliakan tersebut termasuk yang telah melaksanakan perintah Allah swt.

Memuliakan Tamu: Wujud Takwa Hamba Allah swt

Salah satu sikap menghormati sesama bisa tercermin manakala kita, sebagai tuan rumah, kedatangan tamu, yakni orang yang berkunjung ke rumah kita.

Di saat itulah, kita punya kewajiban memuliakan mereka. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam menafsiri firman Allah swt surah Adz-Dzariyat ayat 23.

قال الله تعالى: هل أتاك حديث ضيف إبراهيم المكرمين

“Sudah sampaikah kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan?”

Bahwa berdasarkan ayat di atas, dapat dimaknai bahwa tamu-tamu yang datang haruslah dihormati. Begitupun Imam Ahmad dan sejumlah ulama juga berpendapat bahwa menjamu tamu adalah sebuah kewajiban.

Memuliakan Tamu: Tanda Iman Hamba Allah swt 

Oleh Rasulullah saw, kita secara tidak langsung juga diperintahkan untuk bisa memuliakan tamu kita, apabila kita memang benar-benar beriman kepada Allah swt dan hari kiamat.

وقال رسول الله ص. م.: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

Maka dengan landasan iman dan takwa inilah, semestinya memuliakan tamu bagi kita selaku tuan rumah, adalah sebuah ibadah yang menyenangkan.

Menyenangkan untuk diri sendiri karena bertambah akrab terhadap sesama, juga menyenangkan orang lain yang sedang kita jamu di rumah kita.

Memuliakan Tamu: Membukakan Pintu Kebaikan dan Dijauhkan dari yang Merugikan

Sulthanul Ulama’, Syaikh Izzuddin Ibnu Abdissalam menerangkan, bahwa memuliakan tamu dengan ramah dan penuh kegembiraan merupakan pintu kebaikan yang utama. Di antaranya adalah dengan menyegerakan suguhan dan hidangan yang menyenangkan.

Begitu juga ketika tamu telah selesai menikmati hidangan lalu berpamitan pulang, masih ada fadilah bagi kita tuan rumah yang memuliakan, yakni berupa dijauhkan diri dari perkara yang berbahaya dan yang bersifat merugikan.

وإكرام الضيفان بالبشر ونحوه من تعجيل القرى وجودة الطعام من باب إحسان الإحسان، وانصراف الضيفان عقيب الأكل من باب اجتناب الأذى

*

Demikian, betapa Islam sangat memudahkan kita meningkatkan iman dan memperbanyak amal ibadah, dengan jalan memuliakan tamu-tamu yang hadir dan berkunjung ke rumah.

Menyuguhkan jamuan, serta menghormatinya dengan wajah kegembiraan, semoga bisa senantiasa kita amalkan sehingga menjadi adat dan kebiasaan.

Kebiasaan memuliakan sesama, menjadikan orang lain terhormat, mudah-mudahan menjadi kesenangan kita, sebagai wujud hamba yang bertakwa pada Allah swt. Aamiiin.

Wa Allah a’lam.

Referensi:

Syajarah al-Ma’arif wa al-Ahwal wa Shalih al-Aqwal wa al-A’mal karya Sulthanul ‘Ulama’ ‘Izzuddin Abdissalam ibn Hasan As-Sulamy hlm. 144 versi pdf

Tafsir Ibnu Katsir surah Adz-Dzariyat ayat 24 via tafsir.app

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Memuliakan Tamu, Tanda Iman dan Takwa Seorang Hamba pada Tuhannya"

Berlangganan via Email