Allah Al-Mukmin, Yang Maha Memberi Keamanan Dan Ketenangan (7)

Table of Contents

Al-Mukmin Yang Maha Memberi Aman

Lafadz Al-Mukmin terambil dari akar kata amina. Semua kata yang terdiri atas huruf-huruf alif, mim, dan nun, dapat bermakna pembenaran dan ketenangan hati.

Seperti antara lain iman, amanah, dan aman. Amanah (lawan dari khianat) adalah yang melahirkan ketenangan batin serta rasa aman, karena adanya pembenaran dan kepercayaan terhadap sesuatu. Adapun iman adalah suatu pembenaran hati dan kepercayaan terhadap sesuatu.

Makna Al-Mukmin

Prof. Dr. M. Quraish Shihab cenderung memahami kata Mukmin dalam arti pemberi rasa aman. Karena dalam Al-Qur’an, ditegaskan bahwa Allah adalah Pemberi rasa aman. 

Menurut Imam Al-Ghazali, mukmin adalah yang kepadanya dikembalikan rasa aman dan keamanan melalui anugerah tentang sebab-sebab perolehan rasa aman dan keamanan itu, serta dengan menutup segala jalan yang menimbulkan rasa takut.

Memahami Allah sebagai Al-Mukmin adalah dengan meyakini bahwa semua rasa aman dan keamanan yang ada hanyalah bersumber dari-Nya.

Sebab pada hakikatnya, kita sebagai manusia adalah makhluk yang secara fitrah amat lemah, karena penyakit, rasa lapar, haus, serta berbagai ancaman yang kita hadapi, baik ancaman duniawi, lebih-lebih ukhrawi.

Namun hanya Allah-lah yang dapat memberi kita rasa aman dan keamanan, yakni pada saat kita berlindung ke dalam benteng yang disiapkan-Nya. Benteng itu ialah keyakinan kita akan sifat keesaan-Nya.

Sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi, “Laa Ilaaha Illa Allah adalah benteng-Ku. Siapa yang masuk ke benteng-Ku, maka ia telah memperoleh keamanan dari siksa-Ku.”

Asmaul Husna Al-Mukmin

Berakhlak dengan Al-Mukmin

Kita yang meneladani Allah dalam sifat Al-Mukmin ini, akan mampu memberi rasa aman dari ketakutan, yang bersumber dari kita, peneladan, kepada semua makhluk-makhluk Allah swt di seluruh alam.

Namun tentunya, sebelum kita melakukannya, terlebih dulu kita sendiri harus memiliki rasa aman dan ketenangan batin, atau dalam istilah Al-Qur’an memiliki sakinah. Karena bagaimana kita dapat memberi rasa aman itu jika kita sendiri belum memilikinya?

Terlebih Dulu Memiliki Sakinah, Sebelum Memberikan Rasa Aman

Perlu diingat di sini bahwa sakinah baru dapat kita peroleh setelah melalui beberapa fase.

Pertama, mengosongkan hati dari segala sifat tercela, yakni dengan jalan mengakui dosa-dosa yang telah lalu.

Kedua, memutuskan hubungan dengan masa lalu yang kelam, dengan penyesalan dan pengawasan yang ketat terhadap diri tentang hal-hal mendatang.

Ketiga, mujahadah/perjuangan melawan sifat-sifat jiwa yang tercela dengan sifat-sifat yang terpuji. Seperti kekikiran dilawan dengan kedermawanan, kecerobohan dengan keberanian, egoisme dengan pengorbanan, sambil memohon bantuan Allah dengan berzikir penuh ingat dan harapan.

Hingga kita sampai pada tahap untuk menyadari, bahwa pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik.

*

Sakinah, dapat terlihat pada kecerahan air muka, yang disertai dengan kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat.

Pada tingkatan ini lah, rasa aman serta ketenangan yang kita rasakan dapat mengalir kepada pihak lain. Baik ketenangan yang kita berikan secara langsung, maupun yang kita berikan meski tidak hadir bersama orang lain, yakni dengan tidak menyebut kejelekan perbuatannya.

*

Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.”

Para sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?”

Jawab Nabi, “Yang tidak memberi rasa aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Wa Allah a’lam.

Diringkas dan dikutip dari referensi:
Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab hlm. 48—53.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah cara saya bercerita sekaligus berwisata

Post a Comment