Sabar dan Shalat, Sarana Meminta Pertolongan Kepada Allah

Table of Contents
Tafsir Al-Baqarah ayat 45 wasta'inu bisshobri wasshalah

Sabar dan shalat, merupakan dua ibadah yang bisa kita jadikan sarana dalam meminta pertolongan kepada Allah swt.

Dalam Al-Baqarah ayat 45, Allah swt memberi isyarat kepada hamba-hamba-Nya yang mendambakan kebaikan dunia maupun akhirat, untuk bisa menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana meminta pertolongan.

يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا عَبِيدَهُ، فِيمَا يُؤَمِّلُونَ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِالِاسْتِعَانَةِ بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Demikian kurang lebih Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut dalam kitab Tafsirnya.

Puasa, Salah Satu Cara Bersabar

Seperti yang masyhur kita temukan dalam kebiasaan di lingkungan kita, yakni pada saat kita memiliki hajat atau keinginan tertentu, supaya diriyadhahi alias ditirakati dengan cara berpuasa.

Hal ini sejalan dengan pendapat Mujahid yang mengatakan, bahwa di antara yang dimaksud dengan bersabar adalah berpuasa.

فَأَمَّا الصَّبْرُ فَقِيلَ: إِنَّهُ الصِّيَامُ، نَصَّ عَلَيْهِ مُجَاهِدٌ.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa berpuasa merupakan salah satu ibadah berat yang menuntut pelakunya supaya menahan diri dari yang membatalkan puasa, bahkan yang merusak pahalanya, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Sabar, Pengakuan Hamba Pada Tuhannya

Meskipun demikian, secara umum, Sa’ad bin Jubair mengungkapkan, bersabar adalah pengakuan kita, sebagai hamba, bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah datangnya dari Allah swt.

Pengakuan ini dilandasi juga dengan penuh harapan atas ridha dan pahala dari-Nya.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: الصَّبْرُ اعْتِرَافُ الْعَبْدِ لِلَّهِ بِمَا أَصَابَ فِيهِ، وَاحْتِسَابُهُ عِنْدَ اللَّهِ وَرَجَاءُ ثَوَابِهِ

Kita boleh saja gelisah dan berkeluh kesah dalam menghadapi musibah atau masalah, tetapi kita tetap harus tegar alias pantang menyerah.

Yang seperti ini adalah keadaan yang terlihat manakala kita bisa mengamalkan sifat sabar.

 وَقَدْ يَجْزَعُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَتَجَلَّدُ، لَا يُرَى مِنْهُ إِلَّا الصَّبْرُ

Shalat, Sarana Nabi Ketika Menemui Suatu Perkara

Dalam satu riwayat hadits Abu Dawud, diceritakan oleh Hudzaifah ibnul Yaman, bahwa shalat merupakan cara Nabi ketika sedang menghadapi suatu perkara.

قَالَ حُذَيْفَةُ، يَعْنِي ابْنَ الْيَمَانِ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى. وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Perkara di atas secara umum bisa kita maknai sebagai suatu hajat atau kebutuhan, cita-cita atau angan-angan, bahkan masalah atau cobaan.

***

Pada akhirnya, hemat penulis, sabar dan shalat sebagai sarana meminta pertolongan pada Allah swt bukan berarti kita mendikte (memaksa) Allah supaya Dia menerima alias mengabulkan doa dan permohonan kita.

Hanya saja, dengan sabar dan shalat, kita bisa lebih menguatkan iman dan kepercayaan kita kepada Allah, bahwa segala keputusan-Nya adalah yang terbaik bagi seluruh hamba dan makhluk-Nya.

Oleh karenanya, hal inilah yang mendasari bahwa wasiat sabar dan shalat ini adalah hal yang berat, kecuali bagi kita yang “khasyi’in”, yang bisa berlaku khusyu’, yakni yang tunduk untuk patuh pada-Nya, yang takut akan pembalasan-Nya, serta percaya pada janji dan ancaman dari-Nya.

وَقَالَ الضَّحَّاكُ: ﴿وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ﴾ قَالَ: إِنَّهَا لَثَقِيلَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاضِعِينَ لِطَاعَتِهِ، الْخَائِفِينَ سَطَواته، الْمُصَدِّقِينَ بِوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ

Demikian jelas Ad-Dhahhak dalam mengomentari lafadz “innaha lakabiratun”.

***

Semoga kita dijadikan oleh-Nya termasuk yang mau melatih dan membiasaan diri untuk-Nya.

Wa Allah a’lam.
 
Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir via web Tafsir.app dan Ibnu Katsir Online

وَٱسۡتَعِینُوا۟ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِیرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَـٰشِعِینَ [البقرة ٤٥]

يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا عَبِيدَهُ، فِيمَا يُؤَمِّلُونَ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِالِاسْتِعَانَةِ بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ، كَمَا قَالَ مُقَاتِلُ بْنُ حَيَّان فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ: اسْتَعِينُوا عَلَى طَلَبِ الْآخِرَةِ بِالصَّبْرِ عَلَى الْفَرَائِضِ، وَالصَّلَاةِ.
فَأَمَّا الصَّبْرُ فَقِيلَ: إِنَّهُ الصِّيَامُ، نَصَّ عَلَيْهِ مُجَاهِدٌ.

وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنِ ابْنِ لَهِيعة عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: الصَّبْرُ اعْتِرَافُ الْعَبْدِ لِلَّهِ بِمَا أَصَابَ فِيهِ، وَاحْتِسَابُهُ عِنْدَ اللَّهِ وَرَجَاءُ ثَوَابِهِ، وَقَدْ يَجْزَعُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَتَجَلَّدُ، لَا يُرَى(٤) مِنْهُ إِلَّا الصَّبْرُ
قَالَ حُذَيْفَةُ، يَعْنِي ابْنَ الْيَمَانِ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى. وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

وَقَالَ الضَّحَّاكُ: ﴿وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ﴾ قَالَ: إِنَّهَا لَثَقِيلَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاضِعِينَ لِطَاعَتِهِ، الْخَائِفِينَ سَطَواته، الْمُصَدِّقِينَ بِوَعْدِهِ وَوَعِيدِهِ

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah cara saya bercerita sekaligus berwisata

Post a Comment