Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ar-Rahman: Pengasih di Dunia Akhirat, Ar-Rahim: Penyayang Hanya di Akhirat (2-3)

Kufi Asmaul Husna

Dua Nama Allah ini merupakan dua nama yang dominan. Berikut penjelasan Prof. Dr. M. Quraish Shihab terkait Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

***

Dua nama Allah ini dikatakan dominan, salah satunya karena keduanya ditempatkan khusus setelah nama Allah, yakni menyusul lafadz basmalah.

Oleh karena kemuliaan dua nama ini, Nabi saw pun melukiskan bahwa apabila setiap pekerjaan tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka pekerjaan itu seakan menjadi buntung, atau hilang berkahnya. 

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Prof. Dr. M. Quraish Shihab cenderung mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Ar-Rahman dan Ar-Rahim berasal dari akar kata yang sama, yakni rahmat.

Rahmat Allah bersifat sempurna karena setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, seketika itu juga rahmat tercurah. Rahmat-Nya pun bersifat menyeluruh karena ia mencakup yang berhak maupun yang tidak berhak, serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung atau dinilai.

Ar-Rahman memiliki timbangan “fa’lan”, yang biasanya menunjukkan kepada kesempurnaan dan atau kesementaraan. Adapun Ar-Rahim mengikuti wazan “fa’il”, yang menunjuk kesinambungan dan kemantapan.

Dia Ar-Rahman, berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh, tetapi bersifat sementara alias tidak langgeng. Rahmat tersebut menyentuh semua manusia, baik mukmin maupun kafir, hingga seluruh makhluk di alam raya. Namun ia hanya sementara, berlaku di dunia saja.

Dia Ar-Rahim, yang maknanya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan. Sehingga rahmat yang dikandungnya adalah rahmat ukhrawi yang akan diraih oleh yang taat dan bertakwa kepada Allah swt.

Berakhlak dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Ketika membaca Ar-Rahman dan Ar-Rahim, kita diharapkan memiki jiwa yang penuh oleh rahmat dan kasih sayang, yang dapat memancar keluar dalam bentuk perbuatan. Perbuatan yang mencerminkan rahmat dan kasih sayang itu terus diulang-ulang sehingga menjadi ciri khas kepribadian.

Ketika kita telah berkepribadian demikian, maka kita tak akan segan mencurahkan rahmat dan kasih sayang kepada sesama manusia, tanpa membeda-bedakan ras dan golongan, juga kepada setiap makhluk lain yang hidup maupun yang telah meninggal.

Imam Ghazali tentang Ar-Rahman

Menurut Al-Ghazali, apabila kita mampu mengaplikasikan sifat Ar-Rahman, maka kita akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada sesama hamba Allah yang lengah, yang kemudian mengantarkan kita untuk mengalihkan diri dari jalan kelengahan, menuju Allah.

Dengan memberi orang tersebut nasihat secara lemah lembut, tidak dengan kekerasan, serta memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan gangguan.

Kita pun memandang setiap kedurhakaan yang terjadi sebagai kedurhakaan terhadap diri sendiri, sehingga kita tidak menyisihkan sedikit upaya apapun untuk menghilangkannya sesuai kemampuan kita.

Hal ini sebagai pengejawantahan dari rahmat kita terhadap sesama yang berlaku durhaka, agar ia tidak sampai mendapatkan murka Allah swt dan jauh dari-Nya.

Kufi Asmaul Husna

Imam Ghazali Tentang Ar-Rahim

Ketika kita mampu menghayati sifat Ar-Rahim, maka kita tidak akan membiarkan orang lain yang membutuhkan, kecuali kita berupaya memenuhi kebutuhannya. Kita juga tidak membiarkan seorang fakir kecuali kita berusaha untuk membantunya, dengan harta, kedudukan, atau melalui orang ketiga, sehingga terpenuhi kebutuhannya.

Jika usaha yang kita lakukan tersebut tidak berhasil, minimal kita membantunya dengan doa, serta menampakkan rasa kesedihan atas penderitaannya.

Itu semua sebagai tanda kasih sayang, karena kita seakan merasa serupa dengannya yang kita kasihani itu, dalam kesulitan dan kebutuhan. Demikian jelas Hujjatul Islam.

Kufi Asmaul Husna

Wa Allah a’lam.

Diringkas dan dikutip dari referensi:
Menyingkap Tabir Ilahi; Asma al-Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab hlm. 15—25.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Ar-Rahman: Pengasih di Dunia Akhirat, Ar-Rahim: Penyayang Hanya di Akhirat (2-3)"

Berlangganan via Email