Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seseorang itu Bersama dengan Orang yang Dicintainya

Seseorang bersama dengan yang dicintai

Masyhur diriwayatkan, bahwa satu hari ketika Nabi saw sedang khutbah tentang hari kiamat, ada seorang A’rabi, orang dusun yang tiba-tiba bertanya mengintervensi.

“Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat itu?”

Sebuah pertanyaan kritis yang pada umumnya tidak ditanyakan oleh para sahabat Nabi yang terkemuka. Melainkan seorang dusun yang berkarakter apa adanya-lah, dengan berani menanyakannya kepada Nabi.

Nabi kemudian menjawab pertanyaan A’rabi dengan sebuah pertanyaan kembali.  

“Memangnya, apa yang telah kamu siapkan untuk menghadapinya?”

“Untuk menghadapinya, saya tidak punya banyak persiapan puasa dan shalat. Namun saya sungguh mencintai Allah dan Rasul-Nya,” jawab A’rabi dengan percaya diri.

الْمَرْأُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya,” pungkas Nabi saw.

Sebuah Kabar Gembira Bagi Kaum Muslimin

Sahabat Anas r.a. mengatakan, bahwa kabar di atas merupakan sesuatu yang paling menggembirakan kaum muslimin setelah datangnya Islam.

Betapa tidak, bahwa yang banter kita ketahui untuk kita siapkan menghadapi hari akhir ialah iman dan takwa kita kepada Allah swt, yang pada dasarnya terasa berat dan butuh banyak perjuangan.

Akan tetapi, setelah mendengar dawuh bahwa seseorang itu bersama dengan yang dicintainya, kita seakan-akan telah diberi anugerah kemudahan dari Allah dan Nabi. Bahwasanya kenikmatan surga ternyata bisa kita peroleh dengan mudah bahkan secara indah, yaitu lewat jalan cinta (mahabbah).

Cukupkah Hanya dengan Cinta?

Satu pernyataan dari sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq berikut kiranya cukup menjawab pertanyaan tersebut.

مَنْ ذَاقَ خَالِصَ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ شَغَلَهُ ذَلِكَ عَنْ طَلَبِ الدُّنْيَا وَأَوْحَشَهُ عَنْ جَمِيْعِ الْبَشَرِ

Apabila seseorang telah merasakan murninya cinta pada Allah dan Rasul-Nya, ia akan disibukkan untuk melakukan sesuatu sesuai kehendak yang dicintainya. Hal ini akan menyibukkan (menjauhkannya) dari perkara duniawi, bahkan bisa menjadikannya merasa sepi meski berada di tengah orang-orang yang mengelilingi.

Mencintai Orang Tua, Guru dan Ulama

Bagi kita yang orang awam, mungkin belum tingkatannya untuk sampai merasakan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Namun paling tidak, kita bisa menumbuhkan cinta pada orang tua, guru-guru, kiai dan para ulama yang mewarisi tinggalan para Nabi terdahulu.

Kita barangkali terbiasa melestarikan cinta dengan lantaran nderek dawuhipun Guru, atau manut pangendikanipun Bapak/Ibu. Sebuah kebiasaan yang semoga bisa menjadikan jalaran berkumpulnya kita besok bersama orang-orang yang kita cintai.

Dalam salah satu dawuh Gus baha' diterangkan, bahwa jalan menuju surga tidak hanya diperuntukkan bagi para ulama dan ahli ilmu. Melainkan orang-orang bodoh yang tak berilmu pun, bisa berkumpul bersama para Nabi dan ulama di surga lantaran mereka menjadi muhibbin, yakni orang-orang yang mencintainya.

المرأ مع من أحب artinya

Terasa sangat indah, apabila segala sesuatu yang kita lakukan adalah berlandaskan cinta pada Allah dan Nabi-Nya.

Mulai kegiatan yang berupa perintah yang Ia suruh, larangan yang kita diminta-Nya untuk menjauh, sampai kebolehan-kebolehan yang sekiranya bisa menjauhkan kita dari rasa jenuh, sehingga menjadi lebih semangat dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih berpengaruh.

Semoga bisa kita mulai hingga terbiasa, memenuhi tiap detik dalam kehidupan kita, rasa cinta pada Allah dan rasul-Nya, atau para ulama ahlul ilmi dan juga orang tua.

Perasaan cinta yang menjadikan apa saja yang berlalu dalam hari-hari kita adalah sebuah anugerah yang bermakna, yang sepantasnya dengan mudah kita terima, senang dan bahagia dalam status hamba yang beriman, mengamalkan kesholehan, menjadi golongan orang yang beruntung baik di dunia maupun hari kemudian. Amin.

Wa Allah a’lam.

***

Disarikan dari ceramah gus Baha’ di acara Darusan Umum Pengajian Pitulasan di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Secara lengkap bisa disimak di saluran official Menara Kudus di sini.

Kitab Mukhtashar Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali hlm. 211 terbitan Dar al-Kutub al-Islamiyyah.

وقال أعربي: يا رسول الله متى الساعة؟ فقال: وما الذي أعتدت لها؟ قال: ما أعتدت لها كثرة صيام ولا صلاة، إلا أني أحب الله ورسوله. فقال صلى الله عليه وسلم: المرأ مع من أحب
قال أنس: فما رأيت المسلمين فرحوا بشيئ بعد الإسلام فرحهم بذلك، وقال أبو بكر الصديق رضي الله عنه: من ذاق خالص محبة الله ورسوله شغله ذلك عن طلب الدنيا وأوحشه عن جميع البشر

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Seseorang itu Bersama dengan Orang yang Dicintainya"

Berlangganan via Email