Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Shalat Penyejuk Hati, Istirahat dari Penatnya Duniawi



“Mudah-mudahan aku bisa segera shalat, maka aku bisa istirahat”.

Sepintas, bagi orang-orang yang mendengarkan ucapan di atas, mereka menganggap bahwa seakan-akan shalat adalah pekerjaan yang berat, sehingga bagi yang melakukannya serasa ingin segera beristirahat.

Harapan Seorang Pemuda Untuk Shalat


Dalam Mirqat al-Mafatih, ucapan (mengharapkan shalat untuk beristirahat) adalah seperti yang dituturkan oleh seorang pemuda dari Kabilah Khuza’ah.

Orang-orang yang ada di sekitarnya tidak menghiraukannya, karena kebanyakan mereka salah memahami ucapan pemuda tersebut, yang seakan-akan dia merasa berat melakukan shalat.

Padahal yang dimaksud pemuda itu bukanlah demikian.

Shalat, Sebagai Kegiatan Beristirahat


Pemuda itu lantas menceritakan, bahwa Nabi saw pernah berkata pada sahabat Bilal:

أَقِمِ الصَّلَاةَ يَا بِلَالُ! أَرِحْنَا بِهَا

“Dirikanlah shalat wahai Bilal, berilah kami istirahat dengannya.”

Imam At-Thaibi dalam keterangannya mengatakan, maksud Nabi saw meminta Bilal seperti di atas adalah bahwa bagi Nabi, melaksanakan shalat adalah cara beliau untuk beristirahat.

Kegiatan (Duniawi) di Luar Shalat Sering Menjadikan Penat


Harapan shalat sebagai istirahat, adalah karena amalan-amalan duniawi yang berada di luar shalat seringkali menjanjikan adanya ta’ab (kepenatan/kepayahan).

Sehingga shalat dapat menjadi kegiatan beristirahat, karena di dalamnya kita (sepantasnya) bisa meng-hamba dalam sujud, bermunajat dalam doa, mengingat-Nya melalui dzikir, menghayati bacaan ayat-ayat-Nya yang mulia.


Qurratu ‘aini fis sholah


Maka benar saja sabda Nabi saw:

وَقُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ

“Penyejuk hatiku berada di dalam shalat.”

Qurratu aini fis sholah

***

Semoga kita benar-benar bisa melatih diri, menjadikan shalat sebagai satu ibadah yang nikmat, murni sebagai bentuk penghambaan diri pada Ilahi, menyapa-Nya dalam doa, curhat munajat pada-Nya supaya kian menjadi dekat.

Shalat penyejuk hati, istirahat dari penatnya duniawi.

Wa Allah a’lam.

Referensi:
Mirqat al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih Juz III hlm. 295
Oleh Syaikh Al-Mulla ‘Ali al-Qari
Unduh kitab versi pdf di sini

(وعن سالم بن أبي الجَعْدِ قال: قال رجل من خُزاعةَ)
قبيلة كبيرة شهيرة (ليتني صلّيتُ فاسترَحتُ) أي بعبادة ربي ومناجته ولذة قراءة آياته (فكأنهم) أي بعض الحاضرين الغائبين عن معنى الحضور (عابوا ذلك) تمنيه الاستراحة (عليه) حيث كان ظاهر عبارته محتملة للاستراحة، بها أو منها لغفلتهم عنها (فقال) أي الرجل (سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: أقم الصلاة يا بلال! أرحنا بها) قال الطيبي: أي أرحنا بأدائها من شغل القلب. وقيل: كان اشتغاله بالصلاة راحة له، فإنه كان يعد غيرها من الأعمال الدنيوية تعبا، وكان يستريح بالصلاة لما فيها من المناجاة ولذا قال: وقرة عيني في الصلاة (رواه أبو داود).

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Shalat Penyejuk Hati, Istirahat dari Penatnya Duniawi"

Berlangganan via Email