Sesungguhnya Tugas Itu Mudah Untuk Dilaksanakan (Al-Baqarah: 286)

Table of Contents
Dibaca normal 4 menit

Beban Tugas Itu mudah

Mengutip Tafsir Al-Mishbah surah al-Baqarah ayat 286, bahwa ...

Tugas Ada 3 Kemungkinan, Sesuai dengan Tempat & Waktu

Setiap tugas yang dibebankan kepada seseorang tidak keluar dari 3 kemungkinan.

Pertama, mampu dan mudah dilaksanakan. Kedua, sebaliknya, tidak mampu dia laksanakan. Dan kemungkinan ketiga, dia mampu melaksanakannya tapi dengan susah payah dan terasa sangat berat.

Di sisi lain, seseorang akan merasa mudah melaksanakan sesuatu jika tempat atau waktu pelaksanaannya lapang. Berbeda dengan tempat atau waktu yang sempit. Dari sini kata lapang dalam konteks tugas dipahami dalam arti mudah.

Pemaknaan ‘Lapang’ = ‘Mudah’

Tugas-tugas yang dibebankan Allah kepada manusia adalah tugas-tugas yang lapang, mudah untuk dilaksanakan.

Bahkan kesulitan pun dapat melahirkan kemudahan yang dibenarkan, walau sebelumnya tidak.

Misal pada dasarnya shalat diwajibkan dengan berdiri. Namun jika seseorang kesulitan berdiri, maka ia boleh duduk.

Seseorang yang sulit mendapat air untuk berwudlu, atau khawatir pada kesehatannya, maka dia boleh bertayammum. Dan masih setumpuk contoh yang lain.

Demikianlah, Allah tidak menghendaki sedikitpun kesulitan menimpa kita, utamanya dalam beribadah dan menebar kemanfaaatan.

Dan agar kita termotivasi dalam menjalani tugas (yang tingkat kemudahannya relatif), maka perlu dipahami ...

Hakikat Makna ‘Laha’ dan ‘Alaiha

Kata laha pada ayat tersebut diterjemahkan dengan baginya, yakni pahala (menggambarkan sesuatu yang positif). Dan ‘alaiha dipahami dalam arti atasnya dosa (memberi gambaran hal yang negatif).

Pahala dan dosa atas usaha

Lebih lanjut lagi, penggunaan kata kasabat dan iktasabat meski keduanya berakar sama, tetapi kandungan maknanya berbeda.

Patron kata kasabat berarti melakukan sesuatu dengan mudah (tidak disertai dengan upaya sungguh-sungguh). Berbeda dengan iktasabat yang digunakan untuk menunjuk adanya kesungguhan serta usaha ekstra.

Maka sebenarnya melaksanakan tugas (yang baiki) itu mudah, karena ...

Dasarnya Manusia Itu Berbuat Baik; Berbuat Buruk Butuh Tenaga Ekstra

Perbedaan kedua makna di atas menunjukkan, bahwa kasabat (yang menggambarkan makna positif) memberi isyarat bahwa kebaikan, walaupun baru dalam bentuk niat dan belum terwujud perbuatan, sudah mendapatkan imbalan dari Allah.

Berbeda dengan keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan dan lahir dalam perbuatan.

Di samping itu, penggunaan kata tersebut juga menunjukkan bahwa pada prinsipnya, jiwa manusia cenderung berbuat kebaikan.

Hal ini karena keburukan yang dilakukan manusia biasanya disertai kesungguhan dan dengan usaha ekstra, serta tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia.

Untuk perbandingan, coba perhatikan keadaan kedua orang berikut;

Yang pertama berjalan dengan istrinya. Ia akan berjalan santai, tidak khawatir dilihat orang, bahkan masuk ke dalam rumah di malam hari, tidak akan menjadi persoalan baginya.

Berbeda dengan yang kedua, seorang pria yang berjalan dengan wanita tuna susila. Jalannya hati-hati, menoleh kanan kiri, khawatir ketahuan orang.

Demikianlah hingga kemudian apakah kebaikan (dan keburukan) itu menjadi sebuah kebiasaan.

***

Bagi penulis, setiap tugas yang Allah bebankan pada kita, manusia, pasti disesuaikan dengan kemampuan kita. Karena Allah Maha Bijaksana, dan Tahu kapasitas setiap hamba-Nya.

Maka tak perlu sebenarnya kita menyerah sebelum menjalankan tugas. Sekiranya menjalani dahulu, jika kurang mampu maka (bersabar dan) insyaallah akan ada jalan kemudahan, bahkan jika mampu, maka beban akan semakin ditingkatkan.

Meningkat, seiring dengan kekuatan dan kebermanfaatan.

﴿لَا یُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَیۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ ﴾
[البقرة ٢٨٦]

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kelapangan/kesanggupannya. Baginya (pahala, sesuai) apa yang ia usahakan, dan atasnya (siksa, sesuai) apa yang telah ia usahakan.

Wa Allah a’lam.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah cara saya bercerita sekaligus berwisata

Post a Comment