Ibarat Bumi Adalah Ibu, Maka (Anak) Yang Tumbuh Nanti Tergantung Ibunya

Table of Contents
Dibaca normal 2 menit

Dawuh kiai

Apabila bumi ibarat ibu, maka baik/tidaknya (anak) yang tumbuh nanti tergantung ibunya.
Adalah potongan dawuh simbah KH. Akhyaruddin Ya’qub dalam Ngaos rutin Tafsir di Masjid Thoriqoh, Kedungleper, Bangsri, Jepara.

Awalnya mbah Akhyar menceritakan tentang kehidupan Nabi Ibrahim as yang termasuk orang shaleh sekalipun terlahir dari bapak yang berprofesi sebagai pembuat patung. Beliau kemudian mengutip ayat 58 surah al-A’rof yang berbunyi:

ÙˆَٱلۡبَÙ„َدُ ٱلطَّÛŒِّبُ ÛŒَØ®ۡرُجُ Ù†َبَاتُÙ‡ُÛ¥ بِØ¥ِØ°ۡÙ†ِ رَبِّÙ‡ِÛ¦ۖ

Ayat itu kurang lebih menjelaskan bahwa dari tanah yang baik, maka akan tumbuh tanaman dengan izin Allah swt. Apabila bumi ibarat ibu, maka baik/tidaknya (anak) yang tumbuh nanti tergantung ibunya.

Hal ini mirip seperti hasil riset dari dunia kedokteran, bahwa kebaikan (terutama kecerdasan) seorang anak itu banyak dipengaruhi oleh ibunya, bukan bapaknya.

“Lihat Nabi Ibrahim yang ibunya baik, meski ayahnya tidak. Atau sebaliknya, Kan'an. Ia mirip ibunya, tidak seperti ayahnya, Nabi Nuh,” kurang lebih mbah Akhyar menjelaskan.

Dari nasihat di atas, sudah barang tentu, jika seorang laki-laki ingin memiliki anak yang baik, maka carilah istri yang baik. Meskipun demikian, istri (perempuan) baik juga sepantasnya berpasangan dengan suami (laki-laki) yang baik juga bukan?

Jadi intinya, (masing-masing) jadilah baik.

Wa Allah a’lam.


Disarikan dari Ngaos Rutin Tafsir Al-Qur’an, Rabu, 3 April 2019

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Saya seorang santri dan sarjana pertanian. Menulis adalah cara saya bercerita sekaligus berwisata

Post a Comment