Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Akhlak, Buah Pembiasaan Melatih Jiwa (Riyadhatu an-Nafs)

Dibaca normal 3 menit.

Ihya ulumiddin

Masalah akhlak bisa jadi adalah urgensi utama dalam hidup. Seseorang dianggap memiliki akhlak yang baik lantaran ia mampu membiasakan diri dalam melatih jiwanya. Berikut ulasan tentang akhlak dan kaitannya dengan melatih jiwa (riyadhatu an-nafs) yang dipaparkan Imam Ghazali dalam kitab Mukhtashar Ihya’ Ulumiddin.

Baik, kita mulai dari apa itu ...

Husnul Khalqi dan Husnul Khuluqi

Seseorang dapat dikatakan husnul khalqi (baik ciptaannya) dan husnul khuluqi (baik akhlaknya). Maksudnya ialah baik secara lahiriah maupun batiniahnya. Sebagaimana diketahui, baik lahiriah ialah ketampanan atau kecantikan, dan baik batiniah ialah dominasi sifat-sifat yang terpuji atas sifat-sifat yang tercela.

Pada satu ayat, Allah swt mengingatkan bahwa bentuk lahiriah manusia tersusun dari tanah, dan bentuk batiniahnya tersusun atas roh ciptaan-Nya. Lebih lanjut, seseorang dapat dikatakan memiliki akhlak yang baik manakala ia memiliki bentuk batin yang baik. Ini tak luput dari disingkirkannya sifat-sifat yang tercela, sehingga muncullah sifat-sifat yang terpuji.

Itulah yang disebut dengan akhlak yang baik.
Sehingga bagusnya akhlak itu ...

Bagusnya Kebiasaan Dalam Tingkah dan Laku

Nabi saw pernah bersabda:

حسنوا أخلاقكم
Baguskanlah akhlakmu.”

Beliau mengingatkan bahwa akhlak yang dimiliki seseorang bisa berubah karena dipengaruhi oleh tindakan orang tersebut. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menundukkan amarah, syahwat, dan nafsu kejahatan. Semua sifat tersebut sudah diisyaratkan oleh syari’at.

Apabila kita mau melakukan perintah ini, berarti kita berhasil mencapai tujuan. Caranya ialah dengan bersungguh-sungguh dan bersabar menghadapi sesuatu yang tidak kita sukai, sehingga hal ini menjadi kebiasaan.

Sabda Rasulullah saw:

Hadits tentang adat

الخير عادة
Kebaikan itu kebiasaan.”

Contoh saja ...

Seseorang yang fitrah aslinya bukan dermawan misalnya, sebaiknya ia membiasakan diri seperti perilaku orang dermawan dengan sungguh-sungguh. Atau seseorang yang tidak tercipta sebagai orang yang ramah dan rendah hati, maka ia harus berusaha dengan sungguh-sungguh melakukannya, supaya ia terbiasa atas hal itu. Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya yang harus diatasi dengan sifat-sifat sebaliknya sampai tercapai maksudnya.

Tekun beribadah dan melawan keinginan-keinginan nafsu, dapat membaguskan bentuk batin dan membuat hati merasa senang kepada Allah swt.

Nabi saw bersabda:

اعبد الله في الرضا، فإن لم تستطع ففي الصبر على ما تكره خير كبير

Sembahlah Allah dengan senang hati. Kalau kamu tidak sanggup, maka di dalam kesabaran menghadapi sesuatu yang tidak kamu sukai itu terdapat kebaikan yang banyak.”

Jadi dapat diambil ...

Kesimpulan

Bahwa pada mulanya kita perlu bersabar, hingga (karena terbiasa) lambat laun akan menjadi senang. Sebab, asal fitrah itu menghendaki kebaikan bentuk batin. Dan itulah yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah: “Pahala satu kebaikan itu dilipatkan sepuluh kali.”

Wa Allah a’lam.

Disarikan dari Kitab Mukhtashar Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali, Penerbit: Darul Kutub al-Islamiyyah hlm. 124—125.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Akhlak, Buah Pembiasaan Melatih Jiwa (Riyadhatu an-Nafs) "

Berlangganan via Email