Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Air Bermanfaat dan Buih; Perumpamaan Haq dan Batil (Tafsir Ar-Ra'd: 17)

Dibaca normal 5 menit

Air dan buih

Dalam surah Ar-Ra’d ayat 17, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kebaikan (haqq) dan keburukan (bathil) adalah dua hal yang sangat berbeda. Kebaikan (meski kadang tak terlihat) akan tetap bertahan untuk terus memberi manfaat. Adapun keburukan (yang kadang terlihat jelas di permukaan) hanya bertahan sementara dan akan lenyap tak berbekas.

Berikut kutipan Tafsir Al-Mishbah surah Ar-Ra’d ayat 17 dengan beberapa penyesuaian.

***

﴿أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَسَالَتۡ أَوۡدِیَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّیۡلُ زَبَدࣰا رَّابِیࣰاۖ وَمِمَّا یُوقِدُونَ عَلَیۡهِ فِی ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَاۤءَ حِلۡیَةٍ أَوۡ مَتَـٰعࣲ زَبَدࣱ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَـٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَیَذۡهَبُ جُفَاۤءࣰۖ وَأَمَّا مَا یَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَیَمۡكُثُ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ﴾
[الرعد ١٧]

Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah ia di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau barang-barang, buih seperti itu juga. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang haq dan yang batil. Adapun buih, maka ia akan pergi tanpa bekas. Dan adapun yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpaan-perumpamaan.
[QS. Ar-Ra’d (13): 17]

Awalnya, mari kita pahami tentang...

Makna Haq dan Batil

Kata (حق) haqq dan (باطل) bathil adalah dua substansi yang berlawanan. Haq adalah sesuatu yang mantap lagi tidak berubah, sedang bathil adalah sesuatu yang wujud tetapi sifatnya sementara lalu menghilang dan punah. Bathil adalah sesuatu yang pasti binasa dan lenyap.

Yang dijelaskan oleh Allah di permulaan adalah tentang air hujan, yaitu...

Air (Yang Proporsional) Sebagai Analogi Haqq (Kebaikan)

Ayat ini menjelaskan bahwa air yang diturunkan Allah di lembah itu sesuai dengan daya tampung lembah, atau dalam istilah ayat di atas (بقدرها) biqadariha, karena kalau melebihinya maka akan terjadi banjir yang berpotensi merusak.

Memang sesekali bisa saja air yang tercurah (hujan) sangat lebat sehingga menimbulkan banjir, tetapi karena ayat ini bermaksud memberi perumpamaan tentang yang haq/kebenaran, maka digarisbawahinya kata biqadariha itu.

Kemudian diterangkan tentang kebalikannya, yaitu...

Buih (Limbah) Sebagai Analogi Bathil (Keburukan)

Kata (الزبد) az-zabadu adalah buih, atau limbah banjir, atau gelembung yang terlihat saat air mendidih.

Ayat ini agaknya bermaksud menyatakan bahwa kebatilan walau nampak dengan jelas ke permukaan dan meninggi, bagaikan menguasai air yang mengalir, tetapi hal tersebut hanya bersifat sementara. Karena beberapa saat kemudian buih itu luluh. Dan yang tetap tinggal adalah air yang bersih.

Demikian juga dengan logam yang diliputi oleh aneka kotoran. Dengan membakarnya, akan terlihat dengan jelas kualitas logam. Dan akan menyenangkan melihatnya. Sedang kotoran yang meliputinya hilang terbuang tanpa ada sedikit manfaat pun, serta hilang tanpa disesali.

Haq dan batil

Bahwa Tidak Penting ‘Kebaikannya’, Yang Terpenting itu ‘Manfaatnya’

Yang dimaksud dengan firman-Nya: (أما ما ينفع الناس) ammaa maa yanfa’u an-naasa / adapun yang bermanfaat bagi manusia adalah air bukan buihnya dan logam setelah dibakar dan hilang kotorannya.

Ayat ini tidak menyebut air dan logam itu secara langsung, tetapi menegaskan manfaatnya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa yang penting bukan air atau logamnya, tetapi manfaat yang harus dihasilkan oleh air dan logam itu.

Demikian juga yang haq, yang penting bukanlah ide-ide yang benar, yang berada di menara gading atau mengawang-awang di angkasa, tetapi yang lebih penting adalah manfaat dan penerapan ide-ide yang benar itu dalam kehidupan duniawi, sehingga dapat memberi manfaat.

Karena apalah arti al-haq/kebenaran jika ia ditempatkan di menara gading? Atau jika ia tidak membumi. Selanjutnya, yang dimaksud bermanfaat di sini mencakup aneka manfaat, baik jasmani maupun ruhani, baik perorangan maupun kolektif, baik dunia maupun akhirat.

Haq dan batil

Dari penjelasan-penjelasan di atas, jadi...

Kesimpulannya

Banyak ulama memahami bahwa ayat di atas menampilkan dua macam perumpamaan. Masing-masing untuk kebenaran dan untuk kebatilan.

Contoh pertama bagi kebenaran adalah air yang mengalir dengan sangat deras, dan contoh kedua adalah logam dengan kualitasnya yang jernih. Sedang contoh pertama dari kebatilan keluar akibat pembakaran logam.

Dengan tamsil air dan limbahnya (buih), serta tambang dan limbahnya (karat) itu, Allah menerangkan kebenaran dan kebatilan. Kebenaran diibaratkan sebagai air dan tambang yang jernih, sedangkan kebatilan diibaratkan sebagai limbah air dan limbah tambang yang tidak mungkin dapat dimanfaatkan dan akan lenyap dan terbuang.

Sedangkan air jernih dan tambang jernih yang dapat berguna untuk kepentingan manusia akan bertahan di dalam tanah agar dapat dimanfaatkan.

Dengan tamsil yang sangat jelas seperti itulah Allah swt memperlihatkan kebaikan dan kejahatan kepada manusia.

Wa Allah a’lam.

Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Air Bermanfaat dan Buih; Perumpamaan Haq dan Batil (Tafsir Ar-Ra'd: 17)"

Berlangganan via Email