Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menghayati Fadhilah “Kekayaan” pada Surah Al-Waqi’ah

Menghayati Fadhilah kekayaan pada surah al-waqiah

Sudah masyhur sekali, bahwa surah yang memiliki 96 ayat ini memiliki fadhilah kekayaan / kecukupan rizki bagi orang yang rutin membacanya. Ada yang mengamalkan (membacanya) pada malam hari, menjelang malam (sore hari), atau di sembarang waktu.

Di bawah ini adalah rangkuman beberapa isi pokok kandungan surah al-Waqi’ah.

Bagian I: Keniscayaan Kiamat Terhadap Tiga Kelompok Manusia

Dikutip dari pendapat Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah bahwa, al-Waqi’ah yang terdapat pada ayat 1 memiliki makna kejadian atau peristiwa. Hanya dinamai peristiwa, karena kejadiannya sedemikian jelas dan pasti, yakni peristiwa hari kiamat.

Pada pendahuluan surah, dijelaskan juga bahwa dalam surah ini ada uraian menyangkut tiga kelompok; Pertama, orang-orang yang dekat kepada ar-Rahman yang tampil mendahului orang-orang taat yang lain (as-Sabiqun). Kelompok kedua, adalah uraian tentang orang-orang taat selain kelompok pertama (Ash-hab al-Yamin), dan kelompok ketiga, adalah mereka yang secara terang-terangan melakukan kedurhakaan dan bersikap munafik baik dari kelompok manusia maupun jin (Ash-hab asy-Syimal).


Tiga kelompok yang diceritakan di dalam surah al-Waqi'ah adalah as-Sabiqun, Ash-hab al-Yamin, dan Ash-hab asy-Syimal.

Secara singkat, kelompok as-Sabiqun dapat bermakna bergegas dalam melaksanakan kebajikan, yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi daripada yang lain. Adapun kelompok Ash-hab al-Yamin yang secara makna berarti golongan kanan. Dua kelompok ini sama-sama dijelaskan, dianugerahi oleh Allah berbagai macam bentuk kenikmatan di surga.

Kelompok ayat 10—26 menerangkan tentang keutamaan as-Sabiqun (والسابقون السابقون). Kemudian mulai ayat 27 (وأصحاب اليمين ما أصحاب اليمين) sampai dengan ayat 40 diuraikan tentang kenikmatan kelompok Ash-hab al-Yamin. Baru setelah itu, ayat 41—56  (وأصحاب الشمال ما أصحاب الشمال) dijelaskan tentang keadaan golongan Ash-hab asy-Syimal yakni para penghuni neraka, meliputi siksa-siksa yang mereka dapatkan sebab dosa-dosa mereka ketika hidup di dunia.

Surga

Bagian II: Penjelasan Tentang Kuasa Allah Supaya Manusia Menarik Pelajaran

Beruturut-turut Allah menjelaskan kepada manusia, bahwa ada banyak bukti kekuasaannya yang seharusnya dapat diambil pelajaran oleh manusia. Ayat 57 menyampaikan bahwa Allah kuasa menciptakan. Penunjukan Allah tentang penciptaan manusia (أفرأيتم ما تمنون) / apakah kamu melihat apa yang kamu pancarkan?, lalu kejadian kebutuhan manusia untuk hidup, meliputi makanan yang ditanam (أفريتم ما تحرثون) / apakah kamu melihat yang kamu tanam?, dan air yang diminum (أفرأيتم الماء الذي تشربون) / apakah kamu melihat air yang kamu minum?, dan api yang dinyalakan (أفرأيتم النار التي تورون) / apakah kamu melihat api yang kamu nyalakan?

Semua pertanyaan yang dikembalikan ke manusia itu seperti hanya ingin menyadarkan manusia. Karena kemudian, dijelaskan oleh Allah, bahwa Dia-lah yang menjadikan semuanya itu (sperma, tanaman, air, dan api) sebagai bukti kekuasaan-Nya. Untuk itu, kita diperintahkan untuk bertasbih mensucikan nama-Nya (فسبح باسم ربك العظيم).

Neraka

Bagian III: Tentang Al-Qur’an dan Penegasannya Akan Kebangkitan dan Pembalasan Yang Haq di Hari Kiamat

Di beberapa ayat selanjutnya, Allah juga menegaskan kuasa-Nya untuk membangkitkan manusia setelah mati, yang secara nyata termaktub dalam Qur’an Karim. Setelah dibangkitkan kembali, manusia akan diberi pembalasan. Adapun pembalasan dan ganjaran itu disesuaikan dengan tiga kelompok yang telah dijelaskan di awal.

Terhadap kelompok as-Sabiqun, oleh Allah diberikan kenyamanan dan ketenteraman dari segala kegelisahan, serta rezeki yang berupa rahmat yang memuaskan serta kenikmatan surgawi yang tak dapat dilukiskan (فروح وريحان وجنة نعيم).

Kelompok Ash-hab al-Yamin digambarkan oleh Sayyid Quthub bahwa mereka seperti merasakan kegembiraan yang sangat indah. Mereka (Ash-hab al-Yamin) menerima salam dari saudara sesama Ash-hab al-Yamin lainnya (فسلام لك من أصحاب اليمين).

Adapun kelompok terakhir, Ash-hab asy-Syimal, dikatakan kepada mereka bahwa: “Dan adapun jika dia termasuk golongan para pembohong lagi sesat, maka hidangan berupa air mendidih, dan dibakar oleh Jahim”. Na’udzu billah min dzalik

Kemudian Allah menegaskan kembali bahwa semua hal itu adalah haq al-yaqin (keyakinan yang sangat benar). Setelah itu surah al-Waqi’ah ditutup dengan seruan agar manusia mensucikan (lagi) nama Allah yang Maha Agung (فسبح باسم ربك العظيم).

Hidup adalah pemberian

Bagian Kesimpulan

Sekilas, inti surah al-Waqi’ah secara umum berbicara tentang kepastian akan kebangkitan dan pembalasan amal atas 3 kelompok manusia di hari kiamat. Bagi saya, mungkin kita (yang membaca) selayaknya dapat menyadari, bahwa “tujuan” perjalanan manusia adalah akhirat, melalui pintu hari kiamat, dengan “kendaraan” yang berupa kesadaran untuk mengambil pelajaran (يتذكرون) akan semua kuasa Allah swt.

Ketika manusia menyadari keadaan dirinya sendiri, bahwa manusia tidak memiliki kuasa kecuali diberi kuasa oleh Allah, tidak dapat bekerja dan beribadah jika tidak diberi kekuatan oleh Allah, tidak mampu menghindari maksiat dan durhaka jika tidak diberi hidayah oleh Allah, dan akan selalu bergelimang dalam dosa jika tidak diberi ampunan oleh Allah. Maka saat itulah ia menyadari bahwa ia pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa. Karena hidup (semuanya) adalah pemberian dari Allah.

Ketika ia mengenal (hakikat) dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya.

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Apabila sudah mengenal Tuhannya, maka ia akan merasa kaya (cukup/tidak butuh) dari segalanya selain Dia. Karena kekayaan itu bukan karena memiliki harta (materi) yang melimpah. Namun kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup).


Wa Allah a’lam.

Sumber Bacaan:
Tafsir Al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 13
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Menghayati Fadhilah “Kekayaan” pada Surah Al-Waqi’ah"

Berlangganan via Email