Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demi Malam dan Siang, Menghayati Dua Usaha Manusia Yang Berbeda (Al-Lail: 5-11)

Demi Malam dan Siang, Menghayati Dua Usaha Manusia Yang Berbeda

Membuka surat Al-Lail, kita akan disuguhkan awal surah berupa sumpah demi waktu malam (apabila menutupi) dan siang (apabila terang benderang. Penjelasan berikutnya terasa sangat mencerahkan, khususnya bagi kita yang sedang giat-giatnya berusaha meraih kebaikan (dengan menjauhi keburukan) untuk memperoleh hasil terbaik.

Berikut penjelasan Prof. Dr. M. Quraish Shihab terkait surah al-Lail ayat 5-11 dengan beberapa suntingan.

~

Seperti (yang) diuraikan oleh Sayyid Quthub, bahwa dalam kehidupan ini, usaha manusia bermacam-macam dan berbeda-beda dalam substansi, motivasi dan arahnya, berbeda juga dampak dan hasil-hasilnya.

Manusia dalam hidup ini berbeda perangai dan kecenderungan mereka, pandangan dan perhatian mereka sampai seakan-akan setiap manusia memiliki dunia tersendiri dan hidup di planet tersendiri. Namun demikian, ada hakikat lain yang juga berkaitan dengan manusia yang diuraikan oleh ayat-ayat di atas, dan mencakup semua perbedaan-perbedaan itu, yakni bahwa semua perbedaan itu dirangkum oleh dua kelompok yang berbeda dengan dua sifat yang bertolak belakang. Yang pertama diuraikan oleh ayat 5 dan 6, dan yang kedua diuraikan oleh ayat 8-9.

﴿فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ (٥) وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ (٦) فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡیُسۡرَىٰ (٧)﴾ [الليل:٥-٧]

Maka adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan (adanya) yang terbaik, maka kelak Kami akan memudahkan baginya kemudahan.”

Kata (نيسر) nuyassiru dapat dipahami sesuai dengan makna aslinya yakni memudahkan dengan makna kami memudahkan kemudahan baginya. Ini memberi makna kemudilahan berganda, karena sesuatu telah mudah, masih dimudahkan lagi (لليسرى -red).

﴿وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ (٨) وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ (٩) فَسَنُیَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ (١٠) وَمَا یُغۡنِی عَنۡهُ مَالُهُۥۤ إِذَا تَرَدَّىٰۤ (١١)﴾ [الليل: ٨-١١]

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan yang terbaik, maka kelak Kami akan memudahkan baginya kesukaran, dan tidak berguna baginya hartanya apabila ia telah binasa.

Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya dapat juga dipahami sebagai perintah untuk melakukan aneka aktivitas yang bermanfaat dan menghindari yang tidak bermanfaat, serta beramal sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, kemudian menyerahkan persoalan-persoalan gaib, seperti balasan dan ganjaran kepada Allah swt.

Ini serupa dengan perintah mencari rezeki, yang dituntut dari kita adalah berusaha sekuat kemampuan, lalu menyerahkan hasil usaha itu kepada Allah swt. Jangan sekali-kali mengandalkan nasib dalam memperoleh rezeki, karena perolehan rezeki, serta kegagalan memperolehnya sering kali berkaitan dengan upaya kita.

Ayat di atas (juga) menunjukkan bahwa sebelum Allah mempermudah menelusuri jalan kebahagiaan atau kecelakaan, seseorang terlebih dahulu disyaratkan untuk melakukan sesuatu. Kemudahan yang diberikan Allah itu bersyarat dengan pengamalan manusia yang dalam konteks ayat di atas adalah memberi dan bertakwa serta membenarkan adanya yang terbaik. Kalau ini telah dilakukan, maka insyaallah kemudahan yang dijanjikan akan diperoleh.

~

Berusaha sungguh-sungguh dalam kesulitan (tunggal), lalu insyaallah akan datang kemudahan-kemudahan (ganda), seraya memasrahkan hasil kepada Allah swt. Baca juga tafsir surah Al-Insyiroh ayat 5-6 dan ayat 7-8.

Wa Allah a’lam.
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Demi Malam dan Siang, Menghayati Dua Usaha Manusia Yang Berbeda (Al-Lail: 5-11)"

Berlangganan via Email