Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kala Malam dan Siang Berganti; Belajar dan Mensyukuri (Al-Furqan: 62)

Kala Malam dan Siang Berganti; Belajar dan Mensyukuri (Tafsir Al-Mishbah)

“Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau bagi yang ingin bersyukur”, merupakan petikan makna dari surah Al-Furqan ayat 62. Sekilas, ayat ini memberitahukan bahwa kita diminta merenungkan kejadian pagi dan sore hari sebagai media untuk bersyukur. Berikut kutipan Tafsir Al-Mishbah mengenai ayat tersebut.

~

﴿وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا﴾ [الفرقان: ٦٢]

Kata (خلفة) khilfatan pada ayat di atas menunjuk kepada sesuatu yang datang sesudah yang lain guna melaksanakan sebagian dari apa yang diperankan oleh yang lain. Adapun kata (يذكر) yadzdzakkara dapat berarti mengingat dengan hati dan pikiran sesuatu yang dilupakan, atau memantapkan ingatan menyangkut sesuatu, atau menyebut-nyebut dengan lidah dalam rangka pemantapan ingatan itu. Dalam konteks ajaran agama, ia dapat berarti ‘merenungkan ajarannya’, atau merenungkan tentang diri diri sendiri, dengan melakukan muhasabah, yakni menghitung-hitung kadar dosa untuk memohon ampun kepada-Nya.

Diperhadapkannya kata (يذكر) yadzdzakkara dengan kata (شكورا) syukur, mengantar Thabathaba’i memahami kata yadzdzakkara dalam arti merenungkan kembali apa yang telah dikenal manusia melalui fitrahnya tentang bukti-bukti keesaan Allah swt serta sifat-sifat dan nama-nama yang wajar bagi-Nya, yang kesemuanya bertujuan mengantar kepada keimanan kepada Allah. Sedangkan syukur dipahami dalam arti ucapan dan perbuatan yang mengandung pujian kepada-Nya atas anugerah-anugerah-Nya yang sangat indah dan itu tercermin melalui ibadah serta amal-amal saleh.

Setiap pekerjaan, atau setiap yang baik yang lahir di alam raya ini adalah atas izin dan perkenan Allah swt. Apa yang baik dari kita, pada hakikatnya adalah dari Allah swt. Jika demikian, pujian apapun yang kita sampaikan kepada pihak lain, akhirnya kembali kepada Allah jua. Itu sebabnya kita diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan alhamdulillah, dalam arti segala – sekali lagi segala puji bagi Allah.

Manusia bersyukur kepada makhluk/manusia lain, adalah dengan memuji kebaikan serta membalasnya – jika dia mampu – dengan sesuatu yang lebih baik atau lebih banyak dari apa yang telah dilakukan oleh yang disyukurinya itu. Syukur yang demikian dapat juga merupakan bagian dari syukur kepada Allah, karena: “Tidak bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak bersyukur kepada manusia” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya dan dorongan untuk bersyukur dengan lidah dan perbuatan.

Melalui perbuatan, kita dapat bersyukur kepada-Nya dengan menghayati makna syukur. Syukur dapat diartikan sebagai menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya. Ini berarti kita harus dapat menggunakan segala yang dianugerahkan Allah di alam raya ini sesuai dengan tujuan penciptaannya. Pelajarilah mengapa laut, angin, bumi, dan lain-lain diciptakan Allah, kemudian gunakan ciptaan itu sesuai dengan tujuan ia dixiptakan. Semakin sesuai sikap dan tindakan kita dengan tujuan penciptaan, semakin banyak dan mantap pula kesyukuran kita.

Thahir Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa ayat ini berpesan agar setiap orang berpikir tentang pergantian malam dan siang, sehingga ia dapat mengetahui bahwa di balik pergantian itu pasti ada wujud yang berperanan lagi Maha Bijaksana. Dari sini ia sampai kepada kesimpulan tentang keesaan Allah dan bahwa kekuasaan-Nya Maha Agung, dan ini pada gilirannya mengantarnya untuk percaya bahwa tidak ada yang berhak dipertuhan kecuali Allah swt. Dan hendaklah setiap orang bersyukur atas pergantian malam dan siang itu, karena di baliknya terdapat banyak nikmat Allah.

Sayyid Quthub ketika menafsirkan ayat ini, mengutip pendapat ilmuwan yang menunjukkan betapa besar kuasa dan betapa teliti pengaturan-Nya. “Bumi beredar dalam orbitnya sekali setiap dua puluh empat jam, atau sekitar seribu mil sejam. Kalaulah bumi kita hanya beredar sejauh seratus mil sejam – ( dan ini mengapa tidak terjadi?) – maka ketika itu malam dan siang kita akan lebih panjang puluhan kali dari keadaan sekarang ini. Dan bila itu terjadi, maka matahari musim panas bisa membakar semua tumbuhan kita di siang hari, dan pada malamnya akan membeku semua tumbuhan bumi. Maka sungguh melimpah anugerah Allah kepada makhluk-Nya. Itulah sebagian yang perlu direnungkan dan disyukuri oleh manusia.

Ayat ini juga – menurut Ibn ‘Asyur dan banyak ulama lain – mengandung makna: Hendaklah siapa yang lupa berdzikir mengingat Allah atau bersyukur kepada-Nya di waktu malam – karena tertidur atau keletihan, atau bahkan karena lengah atau durhaka – maka hendaklah ia melakukan apa yang tertinggal atau ditinggalkannya – di waktu siang. Atau apabila ia tidak bersyukur atau berdzikir pada siang hari – karena terlalu disibukkan oleh aktivitasnya – maka hendaklah apa yang tertinggal atau ditinggalkannya itu, diganti pada waktu malam saat ia telah terbebaskan dari tugas-tugasnya.

~

Pada akhirnya, melalui ayat ini kita hendaknya mampu mengamati peristiwa alam, lalu menjadikannya pelajaran, untuk kemudian dapat mengingat Allah, merenungkan betapa nikmat Allah yang kita terima, serta bersyukur, alias menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya.

Wa Allah a’lam.
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Kala Malam dan Siang Berganti; Belajar dan Mensyukuri (Al-Furqan: 62)"

Berlangganan via Email