Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Introspeksi (yang Seharusnya) Tidak Menunggu Tahun Berganti


Tahun 2018 dalam kalender syamsiyah akan berakhir pada hari ini, Senin, 31 Desember 2018. Pada umumnya, orang-orang mulai mengoreksi diri apa yang telah dicapainya selama satu tahun belakangan, untuk kemudian merencanakan kembali apa saja yang akan dicapai pada tahun depan. Dari sini, saya menyebutnya dengan introspeksi (diri).

Saya pun teringat dengan salah satu ayat pada surah al-Hasyr yang berbunyi:

﴿یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ﴾ [الحشر: ١٨]

Ayat tersebut diawali Allah dengan memanggil orang-orang yang beriman, yang diserukan padanya ittaquu (bertakwalah) dengan objeknya yaitu Allah. Sebuah seruan yang ditujukan secara langsung.

Seruan kedua dikatakan bahwa nafsun (diri) hendaknya melihat (ada yang memaknainya memandang). Dikatakan bahwa lafadz nadzara (نظر) dan ra-a (رأى) memiliki makna melihat. Namun nadzara bermakna melihat dengan lebih memperhatikan (yang mirip makna memandang).

Dengan kata lain, diri seseorang/nafs (yang mencerminkan banyak kekurangan) diminta untuk melihat dengan cermat apa-apa yang telah berlalu, untuk (disesuaikan) pada (kebaikan) esok hari. Seperti kesalahan diri, kekurangan, yang telah diperbuat sebelumnya agar dicermati dan diambil pelajarannya, agar tidak diulangi lagi keesokan hari. Berintrospeksi, memperbaiki diri.

Tak berhenti sampai di situ, Allah pun menyerukan kembali wat taqullah (dan bertakwalah kepada Allah). Lalu ditutup dengan penegasan bahwa “Sesungguhnya Allah itu khobir (Maha Mengetahui) terhadap apa yang kalian lakukan”. Bisa jadi, berbagai macam kesalahan yang kita lakukan kadang dapat terjadi di luar kuasa kita, yang kemudian kita menjadi menyesalinya. Mungkin kita diminta Allah untuk tetap tenang menghadapinya, mengintrospeksi dan mengoreksinya di kemudian hari. Allah Maha Tahu, yang bisa jadi Allah menyimpan hikmah atau sesuatu di balik itu semua.

Di sisi lain, termasuk dari beberapa amalan yang disampaikan guru-guru saya adalah membaca surah al-Hasyr ini setiap hari, ada yang menganjurkan pagi bakda subuh, ada juga yang menganjurkan malam bakda maghrib. Nah pada titik ini saya kemudian berpikir, “Oh, apa mungkin dengan lantaran membaca surah ini, yang khususnya pada ayat ini, kita diminta untuk introspeksi diri, bahkan setiap hari (?)”

Pada akhirnya, menjadi yang beriman, bertakwa (pada Allah), mencermati diri yang lalu untuk keesokan hari, bertakwa (lagi pada Allah), menyadari bahwa Allah Maha Mengetahui perbuatan kita, merupakan rangkaian hikmah yang dapat saya petik pada ayat 18 surah al-Hasry ini.

Dengan ini, semoga kita dapat termotivasi agar kita senantiasa introspeksi diri. Ntah di setiap akhir tahun (tahunan), akhir selapan (selapanan), akhir bulan (bulanan), akhir minggu (mingguan), atau akhir hari (harian). Memperbaiki diri, untuk selalu (bertakwa) menjadi lebih baik lagi (pada Allah swt).

Wa Allah a’lam.
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Introspeksi (yang Seharusnya) Tidak Menunggu Tahun Berganti"

Berlangganan via Email