Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mbah Nun: Berbekal Kebenaran, Diekspresikan Menjadi Kebaikan, Menghasilkan Keindahan

Mbah Nun: Berbekal Kebenaran, Diekspresikan Menjadi Kebaikan, Menghasilkan Keindahan

"Dalam hidup itu ada kebenaran, ada kebaikan, ada keindahan."

"Pertama kali harus benar dulu, kemudian menjadi kebaikan. Dan hasilnya, adalah keindahan."

Perumpamaannya seperti seorang musisi, dalam mengolah lagu melalui gitar, ia harus benar dalam memasukkan kuncinya. Setelah benar, ia menjadi kebaikan, yakni dishodaqohkan untuk orang lain. Dan hasilnya, mendengarkan lagu itu adalah keindahan.

Namun yang terjadi kenyataannya, di media sosial misalnya, orang-orang justru banyak memperdebatkan tentang kebenaran. Hasilnya bisa kita lihat sendiri. Karena kebanyakan orang merasa sok benar.

Padahal, lanjut mbah Nun, kebenaran adalah bekal di dapur. Tapi malah disajikan (diekspresikan) di muka umum. Seperti orang yang membuka warung, kebenaran (tentang bumbu dan menu) adalah rahasia dapur, yang tidak layak disajikan kepada pelanggan. Karena yang disajikan adalah kebaikan (hidangan) dari masakan itu, yang akan menjadi keindahan (kenikmatan rasa) bagi orang yang menikmatinya.

Selengkapnya:


"Jadikan kebenaran sebagai bekalmu, kebaikan sebagai ekspresimu."

InsyaAllah akan menghasilkan keindahan.

Wa Allah a'lam
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Mbah Nun: Berbekal Kebenaran, Diekspresikan Menjadi Kebaikan, Menghasilkan Keindahan"

Berlangganan via Email