Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mbah Nun: Dunia Menjadi (Bagian dari) Akhirat

Mbah Nun: Dunia Menjadi (Bagian dari) Akhirat 
Kita sering mengenal istilah dikotomi; utara-selatan, timur-barat, pria-wanita. Kalau dunia-akhirat bagaimana?

“Tidak ada (istilah) dikotomi (untuk) dunia-akhirat. Karena dunia ini bagian dari akhirat. Kita ini berjalan di dunia sampai ke akhirat. Jadi dia satu,” Mbah Nun Ngendikan. 

Bukan berarti menjalankan shalat adalah (amal) akhirat, dan bekerja -ntah berdagang, bertani, menyanyi, menjadi pegawai, atau menjadi pengusaha- adalah (amal) dunia. Yang sepintas kita anggap bersifat duniawi (seperti bekerja itu), bisa menjadi (amal) akhirat, asal niat dan praktiknya itu untuk Allah. Sebaliknya, shalat (yang terlihat seperti amal akhirat) bisa tergolong duniawi, karena niatnya -untuk manusia misalnya- bukan untuk Allah.
 “Ada dunia yang diakhiratkan, ada akhirat yang diduniakan.” 

Selengkapnya di:
Semoga dalam melakukan apapun, kita dapat meniatkannya karena Allah. Karena Allah memberi nikmat, maka selayaknya kita syukuri dengan menggunakannya untuk kebaikan, diri sendiri maupun orang lain. Memberikan kebaikan, memberikan manfaat, mengakhiratkan dunia kalau mbah Nun ngendikan.
Wa Allah a’lam
Achmad Syarif S
Achmad Syarif S Bermedia dalam Jeda

Post a Comment for "Mbah Nun: Dunia Menjadi (Bagian dari) Akhirat"

Berlangganan via Email